Wara Adalah

Wara Adalah

Wara Adalah
Wara Adalah

Pengertian wara’ dalam pandangan sufi adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas hukumnya, baik yang menyangkut makanan, pakaian, maupun persoalan lainnya.[12]sedangkan menurut Yahya bin Ubaid, wara’ adalah menolak segala macam hal yang tidak jelas status hukumnya, dengan cara selalu muhasabah (mengendalikan diri).[13] Sedangkan menurut Ibrahim bin Adham, wara’ yaitu meninggalkan segala sesuatu yang meragukan dan tidak berarti, dan apapun yang berlebihan.[14] Rasulullah SAW telah bersabda:
………………………………………………………………….
Artinya: Tiang penyangga agamamu adalah wara’ (H.R Thabrani dan as-Suyuti)
Sementara itu orang-orang wara’ dibagi menjadi 3 tingkatan:
a. Wara’ (menjauhkan diri) dari syubhat, dimana hukumnya masih belum jelas antara yang benar-benar halal dengan yang benar-benar haram. Dan ia juga berusaha untuk menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak bisa diharamkan atau dihalalkan secara mutlak.
b. Wara’ (menjauhkan diri) dari sesuatu yang menjadi keraguan hatinya dan ganjalan yang ada di dadanya.
c. Orang-orang arif dan sanggup menghayati dengan hati nuraninya. Ini sebagaiman yang dikatakan Abu Sulaiman ad-Darani “Segala sesuatu yang menjadikan anda lalai dengan Allah maka itu merupakan bencana bagi anda”.
Dengan demikian, maka tingkatan wara’ yang pertama adalah tingkatan wara’ kaum awam, yang kedua adalah wara’ kaum khusus, dan yang ketiga adalah wara’ kaum yang lebih khusus dari mereka yang khusus.[15]
3. Zuhud
Zuhud menurut bahasa ialah meninggalkan sesuatu dan berpaling darinya, tanpa kecenderungan dan keinginan padanya.[16] Menurut pandangan para sufi, zuhud secara umum diartikan sebagai suatu sikap melepaskan diri dari rasa ketergantungan terhadap kehidupan duniawi dengan mengutamakan kehidupan ukhrawi.[17]
Sedangkan menurut Syekh Junaid al-Baghdadi, zuhud yaitu menganggap remeh dunia dan menghapus pengaruh-pengaruh dunia dari hati. Berbeda dengan pendapat Sayyid Muhammad Syato ad-Dimyati yang berpendapat bahwa zuhud adalah tidak terpengaruhnya hati dengan harta, bukan tidak adanya harta.[18] Derajat zuhud tetinggi yaitu tidak menyukai segala sesuatu selain Allah, bahkan terhadap akhirat.[19]
Jadi, zuhud itu yaitu menganggap remeh dunia seluruhnya, dan menganggap remeh semua persoalan yang ada di dunia. Maka barangsiapa yang punya anggapan bahwa dunia itu remeh, maka dunia itu hina baginya, kemudian dia tidak merasa senang mempunyai sedikitpun dari dunia itu, dan dia tidak mengambil dari dunia ini kecuali sesuatu yang berguna untuk beribadah, dan dia selalu disibukan dengan dzikir dan mengingat akhirat. Hal ini adalah kondisi zuhud yang paling tinggi, maka barangsiapa yang sampai pada derajat ini, maka tubuhnya berada di dunia sedangkan roh dan akalnya di akhirat.[20]
Sementara itu orang-orang zuhud terbagi menjadi 3 tingkatan:
a. Zuhud umum, ialah berpaling dari dunia untuk sampai pada kebahagiaan akhirat. Pemilik maqam ini berada dalam tawanan syahwat, tetapi dengan hukum akal, ia meninggalkan syahwat yang hina untuk sampai pada kesenangan yang kekal dan mulia.
b. Zuhud khusus, ialah orang-orang yang sanggup mengaktualisasikan kebenaran secara hakiki dalam berzuhud. Menurut Ruwaim bin Ahmad, zuhud yaitu meninggalkan kepentingan-kepentingan nafsu dari seluruh bagian yang ada di dunia.
c. Zuhud akhshashul khowash, ialah berpaling dari kelezatan rohaniyah dan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan jasmani untuk mencapai keindahan Al-Jamil dan menuju hakikat-hakikat ma’rifat.[21]
Berkaitan dengan konsep zuhud, dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang menjelaskan hal itu, diantaranya: Q.S : 77

Sumber : https://tribunbatam.co.id/photo-touch-art-pro-apk/