Upaya Perlindungan Budaya Tradisi

Upaya Perlindungan Budaya Tradisi

Upaya Perlindungan Budaya Tradisi

Upaya Perlindungan Budaya Tradisi
Upaya Perlindungan Budaya Tradisi

Penyelenggaraan Olimpiade Olahraga Tradisional ke-8 Universitas Padjadjaran berlangsung meriah

. Kegiatan yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-58 Unpad ini selain dimeriahkan oleh sivitas akademika juga melibatkan desa sekitar Kecamatan Jatinangor, mitra kerja Unpad, serta perwakilan kabupaten/kota di Jawa Barat, seperti Kabupaten Garut, Kabupaten Subang, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Sumedang hingga Kabupaten Pangandaran.

Pembukaan OOTRad ke-8 ini ditandai dengan penyalaan obor oleh Rektor Unpad, Prof. Dr. med.

Tri Hanggono Achmad, dr. dengan Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kementerian Pariwisata RI, Prof. Dr. H. M. Ahman Sya.

Ahman Sya mengatakan, Kementerian Pariwisata selalu berupaya untuk mendorong kegiatan budaya di tiap tempat, agar dapat terus maju dan berkembang. Dirinya menuturkan, daya tarik wisata sendiri paling banyak karena faktor budaya yang mencapai 60%, disusul alam (35%), dan manusia (5%).

’’Karena budaya dari sisi pariwisata, bukan hanya sumber inspirasi bagi berbagai kegiatan, tetapi juga merupakan sumber inspirasi bagi pengembangan kehidupan di bidang ekonomi, di bidang pendidikan, bahkan budaya,” katanya kemarin (13/9).

Lebih lanju Ahman, memaparkan, ajang ini merupakan kegiatan yang dapat berkontribusi d

alam upaya perlindungan budaya tradisi sekaligus menjadikannya sebagai destinasi dan daya tarik pariwisata.

’’Kegiatan ini sangat bersifat positif, jadi harus tetap diselenggarakan setiap tahunnya,’’ sahutnya.

Sementara itu, Rektor Unpad Prof.Dr.Med. Tri Hanggono Achmad.dr, menegaskan, dalam kegiatan ini diselenggarakan lomba enggrang, ngagandong boboko, balap karung, manggul beas, nanggung suluh, nyuhun jukut, dan eyong, serta eksebisi kaulinan tradisional perepet jengkol, pencak silat, panahan, sorodot gaplok, sumpit, boiboian, damdas, nabuh lisung, galah asin, gasing, gatrik, layang hias, dan demprak.

’’Kampus Jatinagor baru pertama kali melaksanakan kegiatan ini, karena sebelumnya biasa dilaksanakan di kampus Dipati Ukur,” ungkapnya.

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/sejarah-danau-toba/