Titik Temu Antara Ilmu Kalam dan Filsafat Islam

Titik Temu Antara Ilmu Kalam dan Filsafat Islam

Dari uraian diatas kita dapat mengetahui secara garis besar bahwa filsafat Islam bertujuan untuk mempertemukan antara filsafat dan agama. Hal ini dapat kita lihat pada setiap langkahnya, akan tetapi timbul pertanyaan bagaimana agama sebagai wahyu Tuhan, sebagai bahasa langit, sebagai santapan hati, dan sebagai sumber perintah-perintah dan larangan-larangan, bisa bertemu dengan filsafat sebagai ciptaan manusia dan sebagai bahasa bumi yang masih bisa dibahas dan di persoalkan? Bagaimana kebenaran yang di dasarkan oleh ilham dan wahyu bisa di persatukan dengan kebenaran filsafat yang didasarkan dengan alasan fikiran? Bagaimana dengan dalil sam’i bisa di gabungkan dengan dalil aqli?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, bisa dijawab dengan tidak lebih dari tiga jawaban, yaitu: pertama, memegang teguh agama dan menolak filsafat. Ini adalah pendirian orang beragama dan tidak berfilsafat. Yang kedua, kebalikan dari yang pertama, yaitu memegang teguh filsafat dan menolak agama. Dan inilah pendirian orang yang berfilsafat dengan tidak mengindahkan aqidah-aqidah agama. Dan yang ketiga, mengusahakan pemaduan antara filsafat dan agama dengan menggunakan cara tertentu, dan cara inilah yang di tempuh oleh seorang filosof yang mu’min atau seorang filosof yang seharusnya memperhatikan aqidah-aqidah agama.

Bagi orang yang memahami semangat Islam yang mengajarkan pengambilan jalan tengah dan mempelajari ilmu-ilmu keislaman, maka ia akan mengetahui bahwa semangat pemaduan adalah merupakan salah satu aliran-liran yang berbeda dan berlawanan, tentu timbul aliran penengahnya. Seperti yang dibuktikan oleh sejarah.Aliran asy’ariah dalam ilmu kalam yang bisa dikatakan yang bisa menguasai dunia Islam sampai sekarang ini tidak lain adalah aliran tengah-tengah filsafat yang memegangi bunyi nash tanpa mengemukakan penafsiran rasional dengan aliran mu’tazilah yang membebaskan sepenuhnya dalam memahami nash-nash dan penafsirannya.

Dalam lapangan hukum Islam kita mendapati mazhab syafi’i yang menjadi mazhab penengah antar mazhab Maliki dan mazhab Hanafi yang mendasarkan pada pikiran dan ijtihad. Kalau demikian corak pemikiran kaum muslimin pada berbagai bidang pemikiran-pemikiran pada umumnya, maka terlebih lagi filosof-filosof Islam berusaha untuk mempertemukan agama dengan filsafat yang di percayai kebenarannya dan didasarkan dengan ketentuan-ketentuan dalil pikiran yang sama rata.

Selain karena corak pemikiran tersebut, ada beberapa faktor yang mendorong kearah pemaduan tersebut, yaitu: pertama, adanya jurang pemisah yang dalam antara Islam dan filsafat Aristoteles dalam berbagai persoalan, seperti sifat-sifat Tuhan dan ciri-ciri khasnya, baharu dan qodimnya alam, hubungan alam dengan Tuhan keabadian jiwa, dan balasan badaniah atau ruhaniah di akhirat. Kedua, adanya serangan yang banyak dilancarkan oleh orang-orang agama terhadap setiap pembahasan pikiran yang tidak membawa hasil yang sesuai dengan aqidah agama yang telah di tetapkan sebelumnya. Sikap ini sering di ikuti dengan tekanan-tekanan yang dilakukan oleh rakyat banyak dan penguasa-penguasa terhadap ahli-ahli pikir bebas. Dan yang ketiga, hasrat para filosof sendiri untuk dapat menyelamatkan diri dari tekanan tersebut agar mereka bisa bekerja dengan tenang dan tidak terlalu nampak perlawanannya dengan agama.

sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/