Teken Petisi, 25 Ribu Orang Tolak Full Day School

Afri Saragih, salah seorang pendukung petisi menilai sekolah full day hanya merampas kemerdekaan anak-anak. Menurut dia, sudah terbukti selama bertahun-tahun, sistem pendidikan yang hanya fokus pada angka hanya menghasilkan manusia manusia tidak kreatif. Selain itu, kata dia, sistem pendidikan seperti itu membuat orang dewasa menjadi kekanak kanakan. "Kembalikan hak-hak anak! Keluarga adalah pendidikan yang utama! Kembalikan keceriaan masa anak anak Indonesia! Jangan 'penjarakan' anak-anak di dalam satu gedung bernama sekolah, karena belajar itu sepanjang masa, bukan selama di sekolah. Alam raya adalah sekolah yang sebenarnya," tulis warga Bekasi, Jawa Barat itu.

Teken Petisi, 25 Ribu Orang Tolak Full Day School

Teken Petisi, 25 Ribu Orang Tolak Full Day School
Teken Petisi, 25 Ribu Orang Tolak Full Day School

Sebanyak 25.442 orang menolak gagasan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang menginginkan siswa SD dan SMP bersekolah sehari penuh atau full day school.

Penolakan itu disampaikan belasan ribu orang dengan menandatangani petisi online di situs change.org. Adapun petisi itu menyatakam menolak penerapan pendidikan sehari penuh di Indonesia.

Petisi dibuat oleh Deddy Mayharto Kresnoputro, orangtua siswa pada Senin 8 Agustus 2016. Hingga Selasa (9/8/2016) sore, pendukung petisi tersebut sebanyak 25.442 orang.

Dalam petisi itu, Deddy mengkritisi alasan Mendikbud

yang menggagas full day school untuk mencegah agar siswa tidak melakukan hal-hal negatif di luar sekolah.

Salah satu contohnya mengadakan kelas pelajaran agama yang dinilai Mendikbud lebih baik dibandingkan belajar agama di luar sekolah yang mungkin bisa terjerumus ke arah ekstremis.

“Terima kasih atas concern-nya Bapak (Mendikbud)

, tapi kalau hal ini yang perlu belajar adalah orangtuanya, untuk mengarahkan anak agar tidak terjerumus ke hal-hal yang bersifat negatif,” tulis Deddy. (Baca juga: Gagas Full Day School, Mendikbud Dinilai Sederhanakan Persoalan)

Deddy menilai saat ini justru tren sekolah di negara-negara maju adalah mengurangi jam sekolah, tidak ada pekerjaan rumah, serta lebih mengedepankan pembangunan karakter.

Dia juga merujuk pernyataan pemerhati pendidikan yang menganggap homeschooling
pilihan paling tepat dibandingkan mengirimkan anak-anak ke “pabrik” pendidikan yang bernama sekolah sehari penuh.

Melalui petisi yang dibuatnya, Deddy berharap pembuat kebijakan menyadari full day school justru berbahaya. Dia juga mendorong para orangtua dan praktisi pendidikan mencari solusi bagi anak-anak untuk jangka pendek dan bagi kemajuan bangsa Indonesia untuk jangka panjang.

Petisi itu akan disampaikan kepada Presiden Joko Widodo dan Mendikbud Muhadjir Effendy.

Afri Saragih, salah seorang pendukung petisi menilai sekolah full day hanya merampas kemerdekaan anak-anak. Menurut dia, sudah terbukti selama bertahun-tahun, sistem pendidikan yang hanya fokus pada angka hanya menghasilkan manusia manusia tidak kreatif.

Selain itu, kata dia, sistem pendidikan seperti itu membuat orang dewasa menjadi kekanak kanakan. “Kembalikan hak-hak anak! Keluarga adalah pendidikan yang utama! Kembalikan keceriaan masa anak anak Indonesia! Jangan ‘penjarakan’ anak-anak di dalam satu gedung bernama sekolah, karena belajar itu sepanjang masa, bukan selama di sekolah. Alam raya adalah sekolah yang sebenarnya,” tulis warga Bekasi, Jawa Barat itu.

 

Sumber :

http://ojel.student.umm.ac.id/ciri-ciri-tumbuhan-paku/