Tapi lama kelamaan, saya belajar bagaimana mengelola tim

Tapi lama kelamaan, saya belajar bagaimana mengelola tim.

Tapi lama kelamaan, saya belajar bagaimana mengelola tim

Tapi lama kelamaan, saya belajar bagaimana mengelola tim.
Tapi lama kelamaan, saya belajar bagaimana mengelola tim.

Untungnya, mata kuliah yang saya pelajari juga mendukung hal ini. Ada beberapa kuliah membahas aspek psikologis dan neurologis manusia. Hal tersebut mempermudah saya dalam memahami perilaku manusia dan bagaimana menyesuaikan diri dengan hal tersebut.

Ujian untuk kerja kelompok biasanya dalam bentuk presentasi dan paper kelompok. Saya belajar bahwa presentasi manajemen itu harus ringkas dan membuat manajemen fokus ke masalah utama. Dosen keuangan saya membuat pernyataan yang kebetulan sejalan dengan mendiang Bapak saya, masalah di dunia itu tidak terbatas, jadi cara kita untuk menganalisis masalah adalah dengan membatasi masalah. Misalnya di tingkat manajerial, jangan sampai manajemen membahas masalah yang tidak bersifat strategis atau mengarah ke micro-managing yang seharusnya dapat didelegasikan ke staff. Pelajaran kedua, masih sejalan lagi dengan pesan mendiang Bapak saya, presentasi itu sebaiknya menyajikan data dan informasi dalam bentuk grafik atau divisualisasikan secara ringkas. Sehingga bisa dilihat posisi relatif suatu masalah. Tapi harus diingat bahwa sajian visual jangan sampai mendistorsi dan mendistraksi pesan yang akan disampaikan.

2 jenis ujian selanjutnya adalah ujian individu. Jenis yang pertama adalah analisis kritis. Jika biasanya minggu belajar mengajar selesai pada hari Jumat, pada hari sabtu dan minggu setelahnya, saya kadang mulai mencari kasus, mendalami perusahaan atau industri, atau membaca garis besar teori-teori untuk mendapatkan gambaran umum arah analisis saya. Nah, hari senin sampai jumat di minggu ujian, saya mulai membuat analisis kritis. Dalam analisis ini, biasanya saya membaca lebih dari 50 paper dalam 5 hari. Dalam satu kajian sepanjang 2000-2500 kata saya menghabiskan 2-4 halaman untuk references. References ini untuk setiap kalimat atau hasil penelitian yang saya kutip untuk memperkuat argumen dalam analisis saya (bukan sekedar bikin penuh daftar pustaka). Setiap hari saya baru tidur pukul 1-3 dini hari untuk membuat analisis. Kecuali untuk mata kuliah finance, saya tidak tidur 2 hari menjelang deadline.

Saya membaca lebih dari 50 paper karena suatu hal bisa dilihat dari berbagai aspek, dan satu penelitian tidak bisa meliputi seluruh aspek. Selain itu, penelitian itu terbatas konteks, salah satunya tahun. Pada tahun dilakukannya penelitian, situasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi penelitian itu bisa berbeda dengan penelitian lain. Selain itu, kadang saya perlu menguji argumen saya. Dalam analisis kritis, setiap kata dan dugaan yang saya ungkapkan harus didukung oleh kajian ilmiah dan bisa dinalarkan.

Dalam analisis kritis, saya belajar untuk membuat batasan masalah. Untuk paper sebanyak 2500 kata, tentu saya tidak bisa membahas secara mendalam seluruh aspek permasalahan. Masalah harus saya batasi dan saya harus memahami batasan analisis saya.

Selain itu, batasan 2,500 kata membuat saya harus bisa menjelaskan suatu analisis secara ringkas. Ini juga terkait masalah komunikasi. Suatu analisis harus fokus ke permasalahan yang sudah dibatasi, menggunakan rerangka berpikir yang logis, dan dimudahkan dengan visualisasi seperti diagram atau tabel.

Saya juga belajar bahwa masalah itu selalu terkait konteks. Tidak ada masalah dan penyelesaian yang berlaku sepanjang masa dan universal (kecuali mungkin terkait hukum alam yang sifatnya mendasar). Kita harus berhati-hati dalam mengamati konteks terjadinya masalah. Konteks itu sangat penting dalam analisis. Misalnya, kepemimpinan dalam perang dunia II berbeda konteksnya dengan kepemimpinan dalam perang merk smartphone di era digital.

Untuk analisis kritis, dosen saya mengajari triangulasi, yaitu melihat permasalahan dari berbagai aspek dan sudut pandang untuk dapat menjelaskan apa sebetulnya permasalahan ini. Jadi selain paper penelitian, saya juga harus mengamati praktik di industri.

Analisis kritis adalah ujian yang paling saya nikmati. Saya bisa mengeksplorasi berbagai ide dan mengkaji sangat dalam. Seringkali informasi yang saya dapat bisa berkembang sangat luas dan saya menemukan banyak informasi di luar permasalahan yang sedang saya kaji.

Jenis ujian terakhir adalah refleksi diri (untuk mata kuliah terkait manajemen) – refleksi diri sudah pernah saya bahas di tulisan saya yang lain. Untuk mata kuliah teknis, ujian terakhir biasanya dalam bentuk implementasi kasus. Misalnya menerapkan pemahaman supply chain untuk perusahaan panel surya.

Demikianlah singkat cerita perkuliahan saya. Di luar dugaan awal saya, perkuliahan dengan sistem coursework (tanpa thesis) dan teaching block ini cukup berat. Namun secara keseluruhan, saya sangat menikmati perkuliahan dan proses belajar tersebut.

Baca Juga :