Swedia Abdulwahab Berubah Jadi Fanatik Setelah Kuliah di Inggris

Swedia Abdulwahab Berubah Jadi Fanatik Setelah Kuliah di Inggris

Swedia Abdulwahab Berubah Jadi Fanatik Setelah Kuliah di Inggris

Swedia Abdulwahab Berubah Jadi Fanatik Setelah Kuliah di Inggris
Swedia Abdulwahab Berubah Jadi Fanatik Setelah Kuliah di Inggris

Aksi bom bunuh diri yang dilakukan Taimur Abdulwahab al-Abdaly

mengagetkan publik Swedia, negeri yang selama tiga dekade tidak pernah mengalami serangan teroris. Keluarga Abdulwahab menyalahkan Inggris atas perubahannya yang semula hanya “remaja biasa” menjadi orang yang fanatik pada al Qaeda.

Saat berada di Swedia, Abdulwahab tak begitu tertarik soal agama. Dia banyak menghabiskan waktunya untuk olahraga dan pesta-pesta.

 

Namun setelah dia mulai kuliah di Bedfordshire University di Luton, Inggris

semuanya berubah. Pria kelahiran Irak itu menjadi seorang muslim yang taat dengan memiliki pandangan ekstrem. Sampai-sampai dia pun menamakan bayi laki-lakinya Osama, guna menghormati pemimpin jaringan al Qaeda, Osama bin Laden.

Abdulwahab beserta orangtua dan adik perempuannya pindah ke Tranas, sebelah selatan Stockholm pada tahun 1992. Ayah Abdulwahab bekerja di sebuah pabrik di kota tersebut.

 

Seorang teman dekat Abdulwahab mengatakan

keluarga Abdulwahab kaget dengan perubahan dirinya dari seorang remaja biasa menjadi seorang yang fanatik setelah pindah ke Inggris.

“Tak diragukan lagi bahwa Taimur berubah saat dia pergi ke Inggris,” ujar teman Abdulwahab yang minta dirahasiakan jati dirinya seperti diberitakan harian Inggris, Telegraph, Selasa (14/12/2010).

“Dia biasanya minum-minum bir bersama teman-temannya dan pergi ke kelab-kelab malam. Dia tidak peduli soal politik ataupun agama. Dia bahkan punya pacar asal Israel. Dia punya banyak pacar, dia menikmati hidup,” kata teman Abdulwahab itu.

“Namun kemudian dia pergi ke Inggris untuk kuliah pada tahun 2001 dan semuanya berubah… Dia bicara soal Afghanistan dan agama dan dia tak mau bergaul dengan teman-temannya,” ujar teman Abdulwahab tersebut.

Dikatakannya, orangtuanya khawatir mengenai perubahan Abdulwahab. Namun mereka pikir dia cuma sedang melewati sebuah fase. “Tak ada yang pernah membayangkan hal seperti ini. Orangtuanya sangat sedih,” tuturnya.

Abdulwahab lulus dari Bedfordshire University pada tahun 2004. Dia bekerja di sebuah toko di Luton dan mulai berdakwah di Luton Islamic Centre, yang juga dikenal sebagai masjid Al Ghurabaa.

Ketua masjid tersebut, Qadeer Baksh, mengatakan, pandangan-pandangan ekstrem diajarkan oleh Abdulwahab saat berdakwah. “Beberapa anggota menyampaikan pada saya bahwa pandangan dia ekstrem jadi saya tantang dia. Semuanya soal Irak dan Afghanistan. Dia bilang pemerintah Barat tak berhak ada di dana dan tentang bagaimana terlalu banyak muslim yang tetap diam, tutur Baksh.

Abdulwahab pernah pergi ke Suriah dua tahun lalu. Disana dia diyakini berlatih soal teknik bahan peledak. Kepada keluarganya, pria itu mengaku pergi ke Timur Tengah untuk mencari pekerjaan.

Baca Juga :