Sejarah Singkat

Table of Contents

Sejarah Singkat

Pondok Pesantren Darunna’im dirintis oleh Al Allamah Al Habib Sy.Muhammad Ridho Yahya sejak tahun 2002. Dengan partisipasi, sumbang saran dan bantuan dari semua kalangan (Pemerintah, Habaib, Ulama, Para Murid Kaum Muslimin dan lain-lain) maka pada tahun 2005 diresmikanlah Pondok Pesantren Darunna’im. Pondok Pesantren Darunna’im Pontianak Sejak awal pendiriannya diniatkan sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang diformat dengan tujuan:

  • Mencetak generasi qur’ani yang berkepribadian utuh dan unggul dalam ilmu dan amal.
  • Mendidik generasi islam yang memiliki komitmen ke islaman yang tinggi dengan ciri, beraqidah lurus, beribadah benar dan berakhlak mulia .
  • Melahirkan da’i yang tangguh dan mampu menciptakan kreatifitas berdawah dalam mensyiarkan agama kepada ummat.

Untuk mewujudkan tujuan-tujuan diatas, Pondok Pesantren Darunna’im menerapkan konsep pendidikan islam dengan memadukan kurikulum pendidikan Nasional dengan KTSP nya dan materi-materinya yang berbasis syari’ah islam. Sedangkan proses kegiatan belajar sehari-hari dijalan dengan pola kepengasuhan berdasarkan prinsip “Mengasuh Dengan Hati Keteladanan”.

Menapaki tahun ke 7 Pondok Pesantren Darunna’im melangkah lebih maju, dengan segenap kemampuan dan usaha merintis dan mendirikan Madrasah formal dibawah naungan Kementerian Agama yakni MTS dan MA Darunna’im. Sarana dan prasarana yang memadai, SDM yang Profesional penuh dedikasi, kurikulum yang terintegrasi dan proses pembelajaran yang berkualitas terus diupayakan, ini semua dilakukan untuk menjadikan Pondok Pesantren Darunna’im sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang modern dan berkualitas tinggi, mampu mencetak generasi Rabbani yang unggul dalam Ilmu, Amal, Akhlak dan dapat berkontribusi dalam menjayakan Islam dan memajukan bangsa.

  1. Pendiri

Lembaga Pondok Pesantren Salafi modern Darunna’im Pontianak didirikan oleh Al-Habib Muhammad Ridho Bin Yahya. Seorang ulama karismatik yang sangat peduli akan pendidikan agama bagi umat Muslim, khususnya di kota Pontianak. Berawal dari nasihat ibunda, Syarifah Nur binti Muhammad binti Syekh Bafaqih, yang berpesan kepada Al Habib Muhammad Ridho untuk mengabdikan dirinya di dunia pendidikan. Maka, sedari kecil ia mulai bersekolah di sebuah sekolah Belanda dan di sore harinya ia belajar di sekolah Arab. Belajar di dua tempat berbeda dalam satu hari tentu tidak mudah dan membutuhkan semangat belajar yang sangat tinggi, mengingat dirinya masih kecil saat itu.

Sayangnya hal tersebut hanya berlangsung beberapa tahun. Masuknya Jepang menjajah Indonesia membuat beliau terpaksa pindah sekolah. Ia meneruskan pendidikannya di sekolah agama. Ketika menapaki tingkat sekolah lanjutan atas, beliau memutuskan untuk masuk aliyah. Sejak duduk di bangku aliyah beliau sudah mulai mandiri dengan mengajar di Ar-Rabithah, Solo.

Mengajar saat belajar bukan alasan untuk membuatnya tak cemerlang dalam pendidikannya. Beliau berhasil lulus dari Aliyah dengan nilai memuaskan dan meneruskan ke Universitas Gajah Mada di tahun 1953. Namun, karena lebih berminat pada dunia pendidikan, beliau hanya bertahan selama dua tahun di UGM. Beliau memutuskan untuk pindah dan menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi di Solo untuk mengejar gelar sarjana muda dalam bidang pedagogik

Mencoba menghidupi diri sendiri sejak Aliyah dengan mengajar adalah cermin bahwa dirinya memiliki semangat tinggi dalam berbakti di dunia pendidikan. Selain itu juga bukti bahwa ia menuruti apa yang diperintahkan oleh orangtuanya.

Namun dalam hidup cobaan selalu ada, ketika Habib Ridho mulai mencoba untuk berdagang, misalnya, hampir bisa dikatakan bahwa beliau tak pernah menggapai sukses, bahkan sampai saat ini. Berbagai dagangan ia coba, mulai dari baju hingga makanan, tapi laba tak kunjung datang.

Kemudian ia teringat pesan Ibunda, yang mengarahkannya untuk mengabdi di dunia pendidikan. Maka, setelah lulus, selain mengajar beliau juga mulai berdakwah ke masjid-masjid.

sumber :

https://daftarpaket.co.id/seva-mobil-bekas/