PERSAUDARAAN SETIA HATI (1903)

PERSAUDARAAN SETIA HATI (1903)

PERSAUDARAAN SETIA HATI (1903)

Perkembangan silat selanjutnya adalah munculnya perguruan Persaudaraan Setia Hati pada 1903. Persaudaraan Setia Hati yang awalnya bernama Sedulur Tunggal Kecer didirikan oleh seorang tokoh bernama Ki Ngabehi Soerodwirjo di Kampung Tambak, Gringsing, Surabaya. Permainan pencak silatnya saat itu disebut sebagai Joyo Gendilo yang dimainkan oleh 8 orang muridnya.

Pada 1915, nama permainan pencak silatnya berubah lagi menjadi Joyo Gendilo Cipto Mulyo. Lambat laun organisasinya mendapat tempat di kalangan masyarakat setelah mempertontonkan pagelaran pencak silat di alun-alun Madiun. Pada 1917, Ki Ngabehi Soerodwirjo mengganti namanya menjadi Persaudaraan Setia Hati.

Persaudaraan Setia Hati atau biasa disingkat sebagai Persaudaraan SH memiliki makna setia menuruti kata hati yang luhur untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dua hal yang menjadi fokus masing-masing anggota SH adalah memberikan pelajaran lahiriah (yaitu pencak silat) dan memberi pelajaran batiniah untuk mendalami ajaran ketuhanan.

Salah satu murid Ki Ngabehi Soerodwirjo, Ki Hadjar Hardjo Oetomo berpendapat perlunya suatu organisasi untuk menertibkan pelajaran dan materi pengajaran Persaudaraan Setia Hati. Ia pun berkonsultasi dengan Ki Ngabehi. Ki Ngebehi setuju dengan maksud Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Akhirnya, Ki Hadjar Hardjo Oetomo mengembangkan ilmu SH dengan nama Pencak Silat Club (P.S.C) pada 1922.

Lama-kelamaan PSC mempunyai banyak murid, namun Ki Hadjar Hardjo Oetomo merasa tidak puas dengan penamaan perguruannya. Lantaran ia tetap mengajarkan SH kepada murid-muridnya, ia lalu berkonsultasi lagi dengan Ki Ngabehi Soerodwirjo untuk berganti nama. Akhirnya nama PSC diganti menjadi Setia Hati Muda.

Setia Hati Muda dianggap menjadi bagian penting dari perintis kemerdekaan, Ki Hadjar Hardjo Oetomo mengembangkan ilmu di beberapa perguruan yang ada saat itu seperti perguruan Taman Siswo, Perguruan Boedi Oetomo dll. Bahkan murid-murid dari kedua perguruan tersebut menjadi pendekar-pendekar yang gagah berani melawan penjajah Belanda.

Belanda pun sampai menangkap Ki Hadjar Hardjo Oetomo dan mengasingkannya ke Digul untuk melemahkan Setia Hati Muda dan tak ditakuti oleh Belanda. Pemerintah Hindia Belanda memelintir nama SH Muda menjadi SH Merah yang berarti menganut komunis dengan harapan SH Muda dibenci oleh rakyat Indonesia sendiri dan sudah tidak lagi melakukan perlawanan kepada Belanda.

Namun, Ki Hadjar Hardjo Oetomo pantang menyerah. Ia segera mengubah nama SH Muda menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Nama ini kemudian bertahan hingga sekarang. Hingga kini PSHT bertahan dengan segala lika-likunya walau sempat berkonflik dengan perguruan lain, meski dalam satu pendiri yang sama. Sejarah perpolitikan Indonesia turut memengaruhi konflik tersebut seperti munculnya PKI, Pemilu, hingga Reformasi.


Sumber: https://www.loljam.com/driving-zone-apk/