Persalinan Lama, Definisi, Diagnosis, dan Cara Penanganan Khusus

Persalinan Lama, Definisi, Diagnosis, dan Cara Penanganan Khusus

Persalinan Lama, Definisi, Diagnosis, dan Cara Penanganan Khusus

Persalinan Lama, Definisi, Diagnosis, dan Cara Penanganan Khusus
Persalinan Lama, Definisi, Diagnosis, dan Cara Penanganan Khusus

A. Definisi

Persalinan yang berlangsung dari 12 jam, baik pada primi maupun multi. Persalinan lama dapat terjadi dengan pemanjangan kala I atau kala II. Penilaian proses persalinan dengan menggunakan partograf sangat membantu. Beberapa hal yang harus diketahui dalam penilaian tersebut adalah sebagai berikut :

1. Fase penilaian

Fase penilaian dalam kala I sehubungan dengan proses pembukaannya serviks ialah :
  • Fase laten                           : mulai pembukaan 0 sampai 3 cm
  • Fase ekslerasi                     : mulai pembukaan 3 sampai 4 cm
  • fase dilasi maksimal             : pembukaan 4 sampai 9 cm
  • fase deselerasi                     : pembukaan 9 sampai menjadi lengkap 10 cm
  • Kala II                                : pembukaan lengkap sampai bayi lahir

2. Ukuran satuan waktu

  • Fase laten                            : 8 jam
  • Fase ekselerasi                    : 2 jam
  • Fase dilatasi maksimal          : 2 jam
  • Fase deselerasi                     : 2 jam
  • Kala II                                 : Primi 2 jam, multi 1 jam

3. Parameter untuk menilai prose kemajuan persalinan

  • Pembukaan serviks dihubungkan dengan fase persalinan
  • Ukuran setiap waktu setiap fase persalinan
  • Turunnya presentasi janin (bidang hodge/station)
  • Perubahan posisi denominator

B. Diagnosis

Faktor penyebab persalinan lama

  • His tidak efesien/adekuat
  • Faktor janin
  • Faktor jalan lahir
Tanda dan Gejala. Serviks tidak membuka. Tidak didapatkan his/his tidak teratur. Diagnosis Belum inpartu
Tanda dan Gejala. Pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam infartu dengan his yang teratur. Diagnosis. Fase laten memanjang
Tanda dan Gejala. Pembukaan serviks melewati garis waspada partograf. Diagnosis. Fase aktif memanjang

Pembukaan serviks melewati garis waspada partograf yaitu :

  • Frekwensi his kurang dari 3 his per 10 dan lamanya kurang dari 40 detik > Inersia uteri
  • Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang dipresentasi tidak maju, sedangkan his baik > Disproporsi safalo pelvic
  • Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin yang dipresentasi tidak maju dengan kaput, terdapat moulage hebat, edema serviks, tenda rupture uteri imminen, gawat janin.
  • Kelainan presentase (selain vertex dengan oksiput anterior)
Tanda dan Gejala. Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin mengedan tetapi tidak ada kemajuan penurunan. Diagnosis. Kala II Lama.

C. Penanganan Khusus

1. Fase labour (persalinan palsu/belum inpartu)

Periksa adanya infeksi saluran kencing, ketuban pecah dan bila didapatkan adanya infeksi obati secara adekuat. Bila pasien boleh rawat jalan.

2. Proalngd latent phase (fese laten yang memanjang)

Diagnosis fase laten memanjang dibuat secara restrospektif. Jika his berhenti pasien tersebut belum inpartu atau persalinan palsu. Jika his makin teratur dan pembukaan makin bertambah lebih dari 4 cm, pasien dalam fase aktif.
Penilaian ulang terhadap serviks :
  • Jika tidak ada perubahan pada pendataran atau pembukaan serviks dan tidak ada gawat janin, mungkin pasien belum inpartu.
  • Jika ada kemajuan dalam pendataran dan pembukaan serviks, lakukan anmiotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin  atau prostaglandin. *Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam. *Jika pasien tidak masuk fase aktif  setelah dilakukan pemberian oksitosin selama 8 jam, lakukan secsio sesarea.

3. Prolanget aktif phase (fase aktif yang memanjang)    

Bila tidak didapatkan tanda adanya CPCD atau adanya obtruksi :

  • Berikan penanganan umum yang memungkinkan akan memperbaiki kontraksi dan mempercepat kemajuan.
  • Bila ketuban intake, pecahkan ketuban (bila pertimbangan infeksi HIV bisa dihilangkan). Bila kecepatan pembukaan serviks pada waktu fase aktif > 1 cm perjam lakukan penilaian kontraksi uterusnya.

4. Kontraksi uterus yang adekuat

Bila kontraksi uterus adekuat (3 dalam 10 detik dan lamanya > 40 detik). Pertimbangkan kemungkinan adanya CPD, obtruksi, malposisi, atau malpresentase.

5. Disproporsi sefalopelvik

CPD terjadi karena bayi terlalu besar atau velvik kecil, bila dalam persalinan terjadi CPD akan kita dapatkan persalinan yang macet, cara penilaian pelvis yang baik adalah dengan melakukan partus percobaan (trial of labor).
Kegunaan pelvimetri klinis terbatas.

  • Bila diagnosis CPD ditegakkan, lahirnya bayi dengan secsio sesarea.
  • Bila bayi yang mati kraniotomi atau embriotomi (bila tidak mungkin lakukan secsio sesarea)

6. Obstruksi

Bila ditemukan tanda-tanda obstruksi

  • Bayi hidup lahirkan dengan secsio sesarea
  • Bila bayi mati lakukan dengan craniotomi/embriotomi

7. Malposis dan malpresentasi

Bila didapatkan adanya malposisi/malpresentase

8.Kontraksi uterus tidak adekuat

Bila kontraksi uterus tidak adekuat dan disproporsi atau obstruksi bisa disingkirkan penyebab paling banyak partus lama adalah kontraksi uterus yang tidak adekuat.

9. Kala II memanjang (prolaged expulsi phase)

Upayakan mengedan ibu menambah resiko pada bayi karena mengurangi jumlah oksitosin ke plasenta, maka dari itu sebaiknya dianjurkan mengedan secara spontan, mengedan menahan nafas yang terlalu lama tidak dianjurkan.

Sumber: https://www.pendidik.co.id/