Penjelasan Makna dan Hakikat Al-Qabidh dan Al-Baasith

Penjelasan Makna dan Hakikat Al-Qabidh dan Al-Baasith

Penjelasan Makna dan Hakikat Al-Qabidh dan Al-Baasith

Penjelasan Makna dan Hakikat Al-Qabidh dan Al-Baasith
Penjelasan Makna dan Hakikat Al-Qabidh dan Al-Baasith

Al-Qabidh

terambil dari akar kata yang makna dasarnya berarti ” sesuatu yang diambil” dan “keterhimpunan pada sesuatu”. Dari sini lahir makna-makna menyerupai menahan/menggenggam, menghalangi, “kikir” dan “menyempitkan”.
Sedangkan Al-Baasith, terambil dari akar yang bermakna dasarnya ialah “keterhamparan”, kemudian dari makna ini lahir makna-makna lain seperti, “memperluas”, dan “melapangkan”

Karena itu para pakar-pakar bahasa menyatakan bahwa kedua kata diatas, bertolak belakang maknanya.
Azzajaj, pakar bahasa yang menulis wacana Asmaul Husna, beropini bahwa tidak etis kalau menyebut Al-Qabidh tanpa menyebut Al-Baasith, alasannya kesempurnaan kekuasaanNya gres tercermin kalau disebut keduanya secara bersamaan.
Dalam Al-Qur’an tidak ditemukan kedua kata Al-Qabidh dan Al-Baasith sebagai sifat Allah, tetapi ditemukan kata kerja keduanya dengan pelaku ialah Allah, diantaranya dalam surah Al-Baqarah ayat 245 :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Siapakah yang mau memdiberimu sumbangan kepada Allah, sumbangan yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah Yaqbudh/menyempitkan dan Yabsuth melapangkan (reski) dan kepadaNya-lah engkau dikembalikan”.
Selain dari pada ayat tersebut di atas, diayat lain juga terdapat kata Qabadha dalam bentuk kata kerja. Ketika Allah menguraikan wacana kekuasaanNya memanjankan dan memendekkan bayang-bayang, serta keadaan bumi yang berada dalam genggaman tanganNya. sepertiyang Firman Allah :
أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
“Apakah engkau tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki pasti Dia mengakibatkan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu”
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka tidak mengungkan Allah dengan pengungan yang semestinya, pada hal bumi seluruhnya berada dalam genggamanNya pada hari simpulan zaman dan langit dengan tangan kananNya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” (Q.S.Az-zumar ayat 67)
Walau dalam Al-qur’an tidak ditemmukan kata Qabidh dan dan Basith yang menunjukkan kepada Allah, tetapi kedua kata ini ditemukan pada hadist Rasul Saw, yakni sabda ia ketika salah seorang teman akrab ia mengusulkan semoga Nabi memutuskan patokan harga ketika menghadapi kenaikan -harga-harga. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah ialah Pencipta, Dia Al-Basith dan Ar-Raziq, Penetap harga. Sesungguhnya saya mengharap bertemu dengan Allah dan ketika itu tidak seorangpun dari kalian yang menentukan manyangkut penganiayaan darah atau harta” (H.R. Abudaud, Attirmizi, dan Ibnu Majah melalui Anas bin Malik).

Ditemukan juga sabda Rasul Saw

“Sesungguhnya Allah menahan nyawa/jiwa engkau bila Dia menghendaki dan mengembalikannya jikalau Dia menghendaki”. Hadist ini sejalan maknanya dengan firman-Nya:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu pulasnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang sudah Dia menetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain hingga waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat gejala kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir” (Q.s. Az-Zumar 39 : 42).

Dari sini sanggup dipahami bahwa Allah bersifat Qa idah dalam arti Dia mencabut dan menahan ruh dikala maut dan dikala pulas makhluk, sebagaimana Dia juga menahan rezeki, sesuai dengan hukum-hukum yang diputuskan-Nya secara kebijakan yang ditempuh-Nya. Allah SWT juga, yang memanjangkan dan memendekkan bayangan, sesuai dengan hukum-hukum alam yang mengatur perjalanna matahari.

Al-Basith sebagaimana dikemukakan di atas mengandung makna “keterhamparan” kemudian dari makna ini lahir makna-makna lain seperti “memperluas” dan “melapangkan”. Rezeki dilapangkan-Nya sesuai pula dengan hikmah kebijaksanaan-Nya, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetap Allah menurunkan apa yang dikhendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat” (Q.s. Asy-Sy u ra 42 : 27).

Baca Juga: