Pengertian Istilah-Istilah Kata-Kata Kunci: Tasawuf, Sufi,Tariqat

Pengertian Istilah-Istilah Kata-Kata Kunci: Tasawuf, Sufi,Tariqat

Ada sejumlah pengertian yang telah dikemukakan oleh para ahli, baik dari kalangan para sufi (pengamal ajaran tasawuf) maupun yang bukan, terhadap kata tasawuf. Namun demikian tidak mungkin mencantumkan semua definisi dalam tulisan ini, karena sebahagian definisi memiliki kesamaan arti dengan definisi lain, meskipun menggunakan redaksi yang berbeda.

Untuk tujuan kejelasan arti kata tasawuf atau sufi, diperlukan penelusuran terhadap asal usul penggunaan kata tersebut. Dengan penelusuran ini, diharapkan akan memberikan gambaran jelas akan makna kata tasawuf yang sesungguhnya.

Para ulama tasawuf berbeda pendapat tentang asal usul penggunaan kata tersebut. Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut dinisbahkan kepada perkataan ahl al-suffah.

الصوف متصل بأهل الصفة وهم اسم اطلق على بعض فقراء المسلمين فى صدر الإسلام كانوا ممن لا بيوت لهم  فكانوا يأوون إلى صفة بناها الرسول خارج السمجد بالمدينة

“Kata shufi berhubungan dengan perkataan ahl al-shuffah, yaitu nama yang diberikan kepada sebahagian fakir miskin di kalangan orang-orang Islam pada masa awal Islam. Mereka adalah di antara orang-orang yang tidak punya rumah, maka mereka menempati gubuk yang telah dibangun oleh Rasulullah di luar masjid di Madinah.”

Ada yang mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari kata shafa yang berarti suci.

وقالت طائفة انما سميت الصوفية صوفية لصفاء اسرارها ونفقاء أثارها

“Segolongan (ahli tasawuf) berkata: bahwa pemberian nama shufiyah karena kesucian hatinya dan kebersihan tingkah lakunya.”

Dengan demikian mereka memiliki ciri khusus dalam aktifitas dan ibadah mereka yaitu atas dasar kesucian hati dan untuk pembersihan jiwa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka adalah orang yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa dan maksiat.Selanjutnya, ada yang berpendapat bahwa kata tersebut berasal dari kata shaff yang berarti barisan.

“Satu kaum berkata, bahwasanya mereka menamakan shufiyah karena mereka berada pada barisan (shaf) terdepan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan ketinggian cita-cita mereka kepada-Nya dan kesungguhan mereka untuk bertemu dengan-Nya dan ketegaran (ketetapan) hati mereka di sisi-Nya”

Ada yang menisbahkan kata tersebut kepada kata ash-shufu yang berarti bulu atau wol kasar. Hal ini karena para sufi mengkhususkan diri mereka dengan memakai pakaian yang berasal dari bulu domba. Hanya kain wol yang dipakai kaum sufi adalah wol yang kasar bukan wol halus yang dipakai sekarang. Memakai wol pada saat itu adalah sebagai simbol kesederhanaan dan kemiskinan. Lawannya ialah memakai sutra, oleh orang-orang yang mewah hidupnya dikalangan pemerintahan. Kaum sufi sebagai golongan yang hidup sederhana dan dalam keadaan miskin, tetapi berhati suci dan mulia, menjauhi pemakaian sutra dan sebagai gantinya memakai wol kasar.

Bagaimanapun, seperti yang ditegaskan oleh Ibnu Khaldun bahwa seseorang tidak begitu saja dapat disebut sebagai seorang sufi hanya dikarenakan ia memakai pakaian yang terbuat dari wol kasar. Pakaian ini menggambarkan bahwa mereka adalah orang yang sangat sederhana yang tidak menampilkan diri dengan pakaian-pakaian yang bagus, halus dan mahal. Hal ini terlihat dari kata suf itu sendiri yang berarti kain wol kasar. Ini menggambarkan ketidak cendrungan mereka kepada kehidupan duniawi.

Ada juga yang menisbahkan kata tersebut kepada bahasa yunani yaitu saufi. Istilah ini disamakan maknanya dengan kata hikmah yang berarti kebijaksanaan. Kata Sophos dalam bahasa Yunani menunjukkan kondisi jiwa yang senantiasa cenderung kepada kebenaran. Dan masih ada pendapat lain yang menghubungkan kata tasawuf tersebut dengan perkataan lain. Yang jelas dari segi bahasa atau asal usul penggunaan kata tersebut dapat dikatakan bahwa kata tasawuf berkonotasi pada kebijakan, kesucian hati dari godaan hawa nafsu, memutuskan ketergantungannya dengan kehidupan material yang dapat menggangu hubungan dengan tuhan, hidup dalam kezuhudan dan menenggelamkan diri dalam ibadah sehingga semakin dekat dengan-Nya.

sumber :