Pengertian Inovasi Pendidikan

Pengertian Inovasi Pendidikan

Pengertian Inovasi Pendidikan 

Pengertian Inovasi Pendidikan
Pengertian Inovasi Pendidikan

 

Inovasi berasal dari bahasa Inggris innovation

yang berarti segala hal yang baru atau pembaharuan. Ada beberapa pendapat tentang pengertian inovasi tersebut. Rogers (1983) memberikan pengertian inovasi tersebut sebagai suatu gagasan, teknik-teknik, atau praktik atau benda yang disadari dan diterima oleh seseorang atau suatu kelompok untuk diadopsi. Robbins (1994) memberi pengertian terhadap inovasi sebagai suatu gagasan yang baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk, proses, dan jasa. Freedman (1988) memberikan pengertian inovasi sebagai suatu proses pengimple-mentasian ide-ide baru dengan mengubah konsep kreatif menjadi suatu kenyataan. Sedangkan Lena Ellitan dan Lina Anatan (2009) memberikan pengertian inovasi sebagai sistem aktivitas organisasi yang mentransformasi teknologi mulai dari ide sampai komersialisasi. Jadi dari beberapa pengertian inovasi tersebut dapat diketahui bahwa dalam inovasi tersebut tercakup pembaharuan dalam bidang produk, proses, dan inovasi sistem manjerial.

Disamping istilah inovasi terdapat juga beberapa istilah lainya

yang mempunyai hubungan dan makna yang sama dengan inovasi seperti misalnya diskoferi dan invensi. Diskoferi adalah suatu penemuan sesuatu yang sebenarnya ada atau hal tersebut sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Contohnya seperti Newton menemukan hukum Gravitasi Bumi, yang sebenarnya gaya tarik bumi tersebut sudah ada sejak lama, Columbus yang menemukan Benua Amerika tahun 1942, yang sebenarnnya benua tersebut sudah ada, hanya karena Columbus yang menemukan pertama.

Invensi adalah

suatu penemuan baru yang benar-benar baru sebagai hasil rekayasa manusia. Manusia melalui pengalamannya, pengamatannya, dan konsistensinya dalam mempelajari atau menelaah sesuatu sampai kepada suatu bentuk model diakui orang lain sebagai sesuatu yang baru, sperti misal teori-teori belajar, arsitektur unik, mode pakaian, teknologi bangunan, dll nya.
Dari beberapa pengertian inovasi tersebut, sebenarnya dapat dimpulkan bahwa inovasi adalah suatu gagasan, barang, kejadian, teknik-teknik, metode-metode, atau praktik yang diamati, disadari, dirasakan, diterima dan digunakan sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok sebagai hasil diskoferi dan invensi.
Demikian juga dalam konteks sosial inovasi juga diberikan pengertian tersendiri, seperti misalnya Zaltman dan Duncan (1973) memberikan pengertian inovasi dalam konteks sosial sebagai berikut, inovasi adalah perubahan sosial yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Drucker (1995) memberikan pengertian inovasi sebagai perubahan sosial yang di dalamnya mencakup dimensi proses kreatif, adanya perubahan, mengarah kepada pembaharuan, dan memiliki nilai tambah.
Inovasi dalam suatu perubahan sosial akan mengalami tiga tahapan, yaitu invensi, difusi, dan konsekwensi. Ketiga tahapan tersebut Rogers (1983) menjelaskan sebagai berikut. Invensi adalah suatu tahapan ketika ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan , difusi adalah suatu tahapan proses ketika ide-ide baru dikomunikasikan pada sistem sosial, dan konsekwensi adalah suatu tahapan ketika perubahan-perubahan yang terjadi dalam suatu sistem sosial sebagai akibat dari penerimaan atau penolakan ide-ide baru, dan secara totalitas dan perubahan sosial tersebut merupakan hasil komunikasi. Demikian juga dalam bidang pendidikan sebagai bagian dari suatu sistem sosial inovasi pendidikan diberikan pengertian sebagai suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seorang atau kelompok orang atau masyarakat baik berupa hasil invensi atau diskoveri yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan (Ibrahim. 1988). Pendidikan sebagai suatu sistem mencakup beberapa komponen. Dengan demikian inovasi tersebut dapat dilakukan terhadap setiap komponen sistem pendidikan tersebut yang sudah tentunya dalam inovasi tersebut disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan sistem pendidikan (Miles. 1964). Miles lebih lanjut menje-laskan beberapa komponen sistem pendidikan yang bisa dilakukan inovasi adalah sebegai berikut di bawah ini.

Pertama, pembinaan personalia.

Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial tentu menentukan personal sebagai komponen sistem. Inovasi yang sesuai dengan komponen personal misalnya: peningkatan mutu guru, sistem kenaikan pangkat, sistem atau model pembelajaran guru, dan lain-lainnya.
Kedua, banyaknya personalia dan wilayah kerja. Sistem sosial menjelaskan tentang berapa jumlah personalia yang terikat dalam sistem serta dimana wilayah kerjanya. Inovasi pendidikan yang relevan dengan aspek ini, misalnya berapa rasio guru dengan murid dalam suatu sekolah. Dalam sekolah yang menganut sistem pamong misalnya diperkenalkan inovasi 1 guru: 200 murid, di Amerika Serikat misalnya 1:27 orang murid, perubahahan luasnya wilayah kepenilikan, dan sebaginya.
Ketiga, fasilitas pisik. Sistem sosial termasuk juga sistem pendidikan mendaya-gunakan berbagai sarana dan hasil teknologi untuk mencapai tujuan. Inovasi pendidikan yang sesuai dengan komponen ini, misalnya perubahan tempat duduk, perubahan pengaturan dinding ruangan, kelengkapan laboratorium, laboratorium bahasa, penggunaan CCTV, televisi siaran dan sebaginya.
Keempat, penggunaan waktu. Suatu sistem pendidikan akan memeiliki perencanaan penggunaan waktu. Inovasi yang relevan dengan komponen ini adalah pengaturan waktu belajar sistem semester, catur wulan, pembuatan jadawal pelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih waktu sesuai dengan keperluannya, dan sebaginya.
Kelima, prumusan tujuan. Sistem pendidikan memiliki rumusan tujuan yang jelas. Inovasi yang relevan dengan komponen ini misalnya perubahan perumusan tjuan tiap jenis sekolah, perumusan tujuan pendidikan nasional, dan lain sebaginya.
Keenam, prosedur. Sistem pendidikan mempunyai sistem atau prosedur dalam mencapai tujuan. Inovasi yang relevan dengan komponen ini, misalnya, penggunaan kurikulum baru, cara membuat persiapan mengajar, pengajaran individual, dan pengajaran kelompok, dan sebagainya.
Ketujuh, peran yang diperlukan. Dalam sistem pendidikan mempunyai diperlukan kejelasan peran yang diperlukan untuk memperlancar jalannya mencapai tujuan. Inovasi yang relevan dalam hal ini adalah peran guru sebagai pemakai media, maka memerlukan keterampilan menggunakan berbagai macam media, peran guru sebagai pengelola kegiatan kelompok, guru sebagai anggota team teaching, dan sebagainya.
Kedelapan, wawasan dan perasaan. Dalam interaksi sosial biasanya dikembangkan suatu wawasan dan perasaan tertentu yang akan menunjang kelancaran dalam melaksanakan tugas. Kesamaan wawasan dan perasaan dalam melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditentukan akan mempercepat tercapainya tujuan. Inovasi yang relevan dengan bidang ini seperti misalnya wawasan pendidikan seumur hidup, wawasan pendekatan keterampilan proses, perasaan cinta pada pada pekerjaan sebagai guru, kesediaan berkorban, kesabaran sangat menunjang pelaksanaan kurikulum SD yang disempurnakan, dan sebagainya.