Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli dan Sejarahnya

Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli dan Sejarahnya

Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli dan Sejarahnya

Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli dan Sejarahnya
Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli dan Sejarahnya

Schaik

Menurut Schaik, Bank Syariah ialah bentuk bank modern yang berdasarkan pada aturan islam, dikembangkan pada era pertengahan Islam, memakai konsep bagi risiko sebagai sebagai metode utama dan meniadakan sistem keuangan berdasarkan kepastian dan keuangan yang telah ditentukan sebelumnya.

Siamat Dahlan

Menurut Siamat Dahlan, Bank Syariah ialah bank yang menjalankan usahanya berdasar prinsip-prinsip syariah dengan mengacu pada Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Sudarsono

Menurut Sudarsono, Bank Syariah ialah forum keuangan yang memeberikan kredit dan jasa-jasa lainnya dalam kemudian lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasidengan prinsip-prinsip syariah.

M. Syafe’i Antonio dan Perwataatmadja

Menurut M. Syafe’i Antonio dan Perwataatmadja, Bank Syariah ialah bank yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah islam dan tata caranya mengacu kepada ketentuan Al-Qur’an dan Hadits.

UU No. 10 Tahun 1998

Menurut UU No. 10 Tahun 1998, Bank Syariah ialah bank yang menjalankan aktivitas berdasar prinsip syariah dan berdasarkan jenisnya terdiri atas bank umum syariah san bank pembiayaan rakyar syariah.

Ensiklopedi Islam

Menurut Ensiklopedi Islam, Bank Islam ialah forum keuangan yang perjuangan pokoknya memperlihatkan kredit dan jasa-jasa dalam lalulintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoprasiannya diubahsuaikan dengan prinsip-prinsip syariah islam.

Sejarah Bank Syariah

Pada masa Rasullah secara umum bank ialah forum yang melaksanakan tiga fungsi utama yang mendapatkan simpanan uang, meminjamkan uang dan memperlihatkan jasa pengeriman uang. Dalam sejarah perekonomian umat islam pembiayaan yang dilakukan dengan janji sesuai syariah telah menjadi pecahan tradisi umat Islam semenjak zaman Rasulullah. Praktek-praktek menyerupai ini diantaranya mendapatkan penitipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi dan keperluan bisnis, serta melaksanakan pengiriman uang telah lazim dilakuakan semenjak zaman Rasulullah.

Secara kolektif, gagasan berdirinya Bank Islam atau Bank syariah di tingkat internasional muncul dalam konferensi negara-negara islam sedunia di Kuala Lumpur, Malaysia pada 21-27 April 1969 yang diikuti 19 negara peserta termasuk Indonesia. Konferensi tersebut memutuskan beberapa hal, diantaranya:

Tiap keuntungan haruslah tunduk pada aturan untung dan rugi apabila tidak ia termasuk riba dan riba itu sedikit atau banyak hukumnya haram. Diusulkan agara bank islam yang higienis dari sistem riba dalam jangka waktu secepat mungkin.
Sementara menunggu berdirinya bank Islam, bank yang menerapkan bunga diperbolehkan beroperasi tapi apabila benar-benar dalam keadaan darurat.

Karena secara aturan fiqih bunga dikatagorikan riba yang berarti haram, disejumlah Negara Islam dan berpenduduk lebih banyak didominasi islam mulai berfikir untuk mmendirikan forum bank alternatif non ribawi. Usaha modern pertama untuk mendirikan bank pertama tanpa bunga pertama kali dilakukan di Malaysia pada pertengahan tahun 1940-an, eksperimen lain yang dilakukan di Pakistan pada final tahun 1950-an dimana forum perkreditan tanpa bunga didirikan dipedesaan Negara tersebut. Akan tetapi, pendirian bank syariah yang paling sukses dan inovatif dimasa modern ini dilakukan di Mesir pada tahun 1963 dengan berdirinya Mitt Ghamr Local Saving Bank.

Di Indonesia, bank syariah pertama lahir pada tahun 1991 dan beroperasi secara resmi tahun 1992. Padahal, pemikiran ihwal hal ini sudah terjadi semenjak dasawarsa 1970-an. Menurut Dawam Raharjo, ketika memberi Kata Pengantar buku Bank Islam Analisa Fiqih dan Keuangan, penghalangnya ialah faktor politik yaitu bahwa pendirian bank Islam dianggap sebagai pecahan dari impian mendirikan Negara Islam.

Namun, semenjak 2000-an, sehabis terbukti keunggulan bank syariah (bank Islam) dibandingkan bank konvensional antara lain, Bank Muamalat tidak membutuhkan suntikan dana, ketika bank-bank konvensional menjerit minta Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) ratusan triliunan akhir negatif spread bank-bank syariah pun bermunculan di Indonesia.

Baca Juga: