Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia

Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia

Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia

  1. Perkembangan Perhatian Masalah Lingkungan, Di Indonesia

Tahun 1972. Bentuk nyata perhatian serius pemerintah Indonesia diperlihatkan dengan memperhatikan masalah-masalah lingkungan dalam pembangunan nasional dan menekankan bahwa eksploitasi sumber daya alam harus dilaksanakan dengan kebijaksanaan yang komprehensif dengan mempertimbangkan kepentingan generasi mendatang.

Kemudian, pemerintah membentuk suatu Komite Penyusunan Kebijaksanaan Lingkungan (a Committe for the Formulation of Environmental Policies) yang berada di bawah koordinasi dari wakil ketua Bappenas yang bertanggung jawab langsung kepada presiden. Komitmen itu semakin nyata dengan ditetapkannya posisi Menteri Negara untuk urusan lingkungan dan pengawasan pembangunan pada Tahun 1978, yang kemudian dikenal sebagai Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada Tahun 1983 dan berubah menjadi Menteri Lingkungan Hidup pada Tahun 1993.

Pada Tahun 70-an sampai 80-an, kegiatan pengelolaan lingkungan ditekankan pada peningkatan kesadaran masyarakat tentang isu dan masalah lingkungan. Meletakkan landasan dan unsur-unsur penting dan strategis bagi pembangunan dan pertumbuhan yang berkelanjutan, termasuk di dalamnya hukum-hukum dan peraturan, sistem informasi, skill dan keahlian di bidang lingkungan dan jaringan pendukung bagi organisasi lingkungan.

 

  1. Masalah-Masalah Lingkungan Di Indonesia

Ada sekurang-kurangnya empat masalah lingkungan yang dihadapi Indonesia, yaitu:

  1. Deforestasi

Luas hutan di Indonesia menduduki tempat kedua setelah Brasil dan : mewakili sekitar 10% dari hutan tropis dunia yang masih tersisa. Hampir 75% dari luas lahan Indonesia dapat digolongkan sebagai areal hutan (sekitar 144 juta hektar), dan 100-110 juta hektar diperkirakan sebagai hutan lindung (closed canopy) dan sekitar 60 juta diperuntukkan bagi hutan produksi.

Proses deforestasi yang berlangsung tinggi akan mengancam penyediaan bahan. kayu dasar dan produk hutan sekunder. Selain itu, bisa mengurangi pelayanan lingkungan seperti proteksi sumber mata air dan preservasi habitat jalam yang penting. Degradasi hutan yang diakibatkan oleh proses deforestasi di Indonesia tergolong tinggi.

Tingkat deforestasi yang tinggi mengakibatkan menurunnya daya kemampuan hutan untuk menjalankan fungsi ekologisnya sehingga bisa menimbulkan masalah-masalah lingkungan yang serius seperti erosi dan penurunan kualitas lahan, berkurangnya keragaman hayati (biological diversity), dan kenaikan suhu bumi (globalwarming). World Resources Institute (1993) menempatkan masalah degradasi hutan tropis akibat deforestasi (rainforest degradation) merupakan masalah lingkungan utama di Indonesia.

Proses deforestasi juga terjadi pada hutan bakau (mangrove forests). Proses deforestasi ini bisa diakibatkan oleh pengembangan tambak/kolam ikan dan produksi garam; serta kegiatan lain seperti perluasan perumahan penduduk, pembuatan atau pelebaran jalan; dan aktivitas penduduk sekitar untuk kayu bakar dan arang. Deforestasi hutan bakau ini telah membawa dampak lingkungan tersendiri. Fungsi dan peranannya .dalam menjaga keseimbangan ekologi daerah pantai menjadi terganggu. Fungsinya sebagai proteksi pantai dari erosi dan luapan sedimen dari daratan semakin berkurang.

  1. Degradasi Lahan

Degradasi lahan (land degradation) berupa erosi merupakan masalah lingkungan serius di Indonesia. Masalah terjadi bukan hanya karena proses deforestasi tetapi juga sebagai dampak dari pertanian yaiig intensif-modern.

  1. Kekurangan Air

Kekurangan air (water shortages) merupakan salah satu masalah lingkungan utama di Indonesia. Akibat deforestasi di dataran tinggi telah mengakibatkan meningkatnya permintaan air dan meningkatkan polusi air permukaan akibat erosi.

  1. Polusi Udara dan Air

Proses industrialisasi dan urbanisasi yang cepat sepanjang pantai utara Jawa telah mengakibatkan tingkat polusi air yang sangat tinggi. Dampak negatif limbah industri antara lain mencemari sungai-sungai, menimbulkan risiko kesehatan yang serius pada penduduk perkotaan yang tergantung dari sungai-sungai untuk kebutuhan air dan ikan, serta membunuh spesies dan merusak batu karang (coral reers) sepanjang Tahun.

  1. Sistem Pengelolaan Lingkungan Hidup Di Indonesia

Pengelolaan lingkungan hidup merupakan aspek penting untuk mencegah kerusakan lingkungan akibat proyek-proyek pembangunan. Pengelolaan di sini bukan berarti menjaga ekosistem dengan cara mencegah berlangsungnya pembangunan tetapi mendorong usaha pembangunan yang berwawasan lingkungan dan tidak mempertimbangkan ekonomi semata.

  1. Sistem Atur Diri Sendiri

Sistem pengelolaan lingkungan hidup yang berbasis pendekatan ADA banyak menuai kritik. Selain telah disebutkan di atas, kelemahan lain pendekatan ADA adalah mengabaikan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dengan banyaknya kelemahan yang dimiliki sistem ADA maka perlu mencari pendekatan alternatif yang dapat mendorong perilaku masyarakat menjadi pro lingkungan dan pro sosial. Sistem pengelolaan lingkungan hidup baru yang bisa memberi insentif untuk bersikap dan berkelakuan pro-lingkungan dan disinsentif untuk sikap dan perilaku anti-lingkungan hidup. Pendekatan alternatif yang seharusnya diadopsi oleh pemerintah adalah sistem pengelolaan lingkungan hidup Atur Diri Sendiri (ADS).

Di Indonesia, sistem ADS mulai berkembang di dunia usaha. Hal ini terlihat dari kecenderungan yang besar dari berbagai perusahaan untuk mendapatkan ISO-14000 dan penerapan responsible care oleh industri kimia Indonesia yang merupakan praktek sukarela pengelolaan lingkungan hidup asosiasi industri kimia internasional.

Untuk mengembangkan ADS dalam pengelolaan lingkungan hidup diperlukan sekurangnya dua instrumen utama, yaitu instrumen administrasi finansial dan instrumen teknologi yang terdiri atas eko-efisiensi dan ekologi industri. Kedua instrumen ini saling terkait di mana hasil instrumen finansial menjadi masukan untuk implementasi instrumen teknologi dan sebaliknya.

Pembukuan lingkungan hidup mempunyai empat tujuan dasar. Pertama,
mengidentifikasi biaya lingkungan hidup yang ditanggung sebuah
perusahaan. Kedua, menentukan besarnya biaya lingkungan hidup. Ketiga,
menentukan sumber biaya. Keempat, mengelola biaya lingkungan dengan
lebih baik.

Instrumen kedua didasarkan pada prinsip efisiensi, yaitu eko-efisiensi dan eko industri. Efisiensi berarti menggunakan sumber daya ekonomi seefektif mungkin untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia sehingga tidak ada sumber daya yang terbuang atau limbah.

Sementara eko-efisiensi bergerak pada tataran teknologi, ekonomi dan lingkungan hidup fisik, konsep ekologi industri mencakup arti lebih luas, yaitu pada tataran teknologi, ekonomi, lingkungan hidup fisik, dan sosial badaya. Ekologi industri merupakan konsep yang ingin meniru alam yang tidak mengenal limbah. Limbah adalah konsep antroposentris.

Ekologi industri mendasarkan pada beberapa prinsip. Pertama, berupaya meningkatkan efisiensi proses produksi sehingga kebutuhan materi dan energi dapat ditekan seminimum mungkin, misalnya dengan penggunaan katalisator yang lebih baik. Kedua, limbah proses produksi dirancang untuk didaur ulang atau menjadi produk samping untuk dijual kepada industri lain. Ketiga, rancangan produk didasarkan pada Analisis Daur Hidup (Life Cycle Analysis). Analisis Daur Hidup bertujuan untuk meminimalkan arus materi dan energi dalam industri dan lingkungan hidup pada umumnya.


Baca Juga :