Pendapat-pendapat imam Madzhab tentang taqlid

Pendapat-pendapat imam Madzhab tentang taqlid

Pendapat-pendapat imam Madzhab tentang taqlid

a) Abu Hanifah

Abu hanifah sangat melarang seseorang mengikuti apa yang telah dikatakannya (pendapatnya), jika ia tidak mengetahui dasar perkataan itu. Beliau menyatakan :”tidak boleh seseorang mengikuti perkataan (pendapat) yang telah kami katakan, sehingga ia mengetahui dari mana asal perkataan kami itu”. Bahkan beliau mengharamkan orang mengikuti fatwanya, jika orang itu tidak mengetahui dalil dari fatwanya itu.

b) Malik bin Anas

Beliau menyatakan bahwa ia adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Hal ini difahamkan dari perkataannya :”sesungguhnya aku ini tidak lain hanyalah sebagai manusia biasa, mungkin aku salah dan mungkin pula aku benar. Karena itu hendaklah kamu perhatikan pendapatku. Semua pendapatku yang sesuai dengan kitab Allah dan sunnah Rasul, ambillah, dan semua yang tidak sesuai dengan sunnah Rasul saw tinggalkanlah”.

c) Imam Asy Syafi’i

Pendapat imam syafi’I tentang taqlid ini lebih tegas, bahkan beliau mengecam orang-orang yang melakukan taqlid dan orang-orang yang menganjurkan agar orang lain bertaqlid. Hal ini difahamkan dari pernyataan-pernyataan beliau berikut:”Terhadap apa yang telah aku katakan, sedang perkataan Nabi saw telah menyalahi perkataanku itu, maka (riwayat) yang benar dari Nabi saw itu lebih utama, dan janganlah kamu bertaqlid kepadaku”.

d) Imam Hambali

Imam Hambali melarang keras perbuatan taqlid. Hal ini dapat difahami dari pernyataan-pernyataan beliau berikut:
Imam Abu Daud berkata:”Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal:”Apakah Imam Auza’I yang aku ikut atau Imam Malik’. Beliau menjawab:”Jangan kamu mengikuti pendapat salah seorang dari keduanya dalah hal yang berhubungan dengan agamamu. Apa yang berasal dari Nabi saw dan sahabatnya, hendaklah kamu ambil dan pegang kokoh, kemudian apa yang berasal dari Tabi’in boleh kamu ambil setelah kamu seleksi atau teliti.

Baca Juga: