PENCAK SILAT ABAD KE-14

PENCAK SILAT ABAD KE-14

PENCAK SILAT ABAD KE-14

Perkembangan silat selanjutnya adalah

melalui penokohan yang tercatat dalam sejarah. Salah satu tokoh yang dikisahkan mempelajari silat adalah Hang Tuah. Hang Tuah dikenal sebagai pahlawan asal melayu, dengan pangkat laksamana yang pandai bertarung di darat maupun di laut pada masa Kesultanan Malaka.

Suatu waktu, dikisahkan Hang Tuah muda mempunyai 4 sahabat sejak kecil bernama Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu. Kelima bersahabat tersebut mempelajari seni bela diri asal Melayu (silat) dari seorang guru bernama Adiputra.

Ajaran silat ini yang akhirnya membuat kelima bersahabat ini saling membantu dalam menjaga perdamaian di Malaka. Hingga dewasa pun Hang Tuah menggunakan silat sebagai alat mempertahankan diri hingga ia memperoleh jabatan Laksamana.

Selain Hang Tuah, satu tokoh yang mempelajari silat adalah Patih Gajah Mada. Patih kerajaan Majapahit itu menggunakan teknik-teknik pencak silat untuk melatih prajurit-prajuritnya  Bisa dibilang, pencak silat merupakan rahasia di balik Kerajaan Majapahit mempersatukan nusantara. Karena dari situ, majapahit mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan patih Gajah Mada dan Sultan Hayam Wuruk.

Setelah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindhu, pencak silat tetap dilestarikan pada masa kerajaan-kerajaan Islam. Memasuki abad ke-14, perkembangan silat secara historis mulai tercatat. Hal ini tak lepas dari peran para ulama dan mulai berkembangnya kerajaan Islam di nusantara.

Pada masa ini, terdapat berbagai tokoh-tokoh yang menguasai bela diri silat atau biasa disebut sebagai pendekar di antaranya Para Wali Songo ( Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Giri, Sunan Ngampel, Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Maulana Malik Ibrahim), Panembahan Senopati, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Cik Ditiro dan Imam Bonjol. Sementara pendekar wanita yang dikenal adalah Sabai Nan Putih dan Cut Nyak Dien.

Pada periode ini juga lahir aliran silat Cimande yaitu sekitar tahun 1760. Mbah Sakir yang merupakan penduduk Kecamatan Mande, Cianjur melatih beberapa muridnya. Lambat laun, banyak murid yang datang ke Mbah Sakirdan oleh bupati saat itu, Mbah Sakir diangkat sebagai guru silat.

Seiring perkembangannya, Mbah Sakir pindah ke Bogor mengikuti dari saudara bupati Cianjur yang membawanya ke Bogor. Selama Mbah Sakir mengabdi Bupati Bogor, ia tetap berada di Cimande. Oleh karena itu, aliran silatnya sering disebut sebagai Silat Cimande.Dari situlah berkembang Silat Cimande yang hingga sekarang menjadi salah satu aliran yang banyak diikuti di Indonesia,

Selain Cimande, juga ada Silat Sitaralak dari Minangkabau. Ini merupakan ilmu lanjutan dari Silek Tuo sejak abad ke-11. Silat Sitaralak dikembangkan oleh Ulud Bangindo Chatib dari Kamang (dekat Bukittinggi), Kabupaten Agam, hingga ke wilayah Sawahlunto pada 1865.

Sejarah pencak silat pun masih berlanjut. Aliran Silat ini mempunyai karakter khas yaitu menyerang saat lawan akan menyerang. Silat Sitaralak terinspirasi dari Silek Tuo yang juga menggabungkan gerakan-gerakan hewan seperti harimau, kucing dan buaya.


Sumber: https://girlsgames123.co.id/the-ark-of-craft-apk/