PEMBAHASAN TAQLID

PEMBAHASAN TAQLID

PEMBAHASAN TAQLID

A. Pengertian Taqlid

Kata taqlid, fi`ilnya adalah qallada, yuqallida, taqliidan, artinya mengalungi,meniru, mengikuti. Ulama ushul fiqh mendefinisikan taqlid “penerimaan perkataan seseorang sedangkan engkau tidak mengetahui dari mana asal kata itu”. Taklid ialah menerima pendapat orang lain tanpa mengetahui hujjah (dalil) yang menujukan kebenaran pendapat tersebut. ( Hamdani Yusuf, 1986, Perbandingan Madhab:32)
Artinya :”penerimaan perkataan seseorang sedang engkau tidak mengetahui dari mana asal perkataan itu”.
Jadi menurut ushul fiqh ada dua hal yang terdapat dalam taqlid, yaitu :
1) Menerima atau mengikuti perkataan seseorang.
2) Perkataan atau pendapat yang diikuti atau yang diterima itu tidak diketahui dasar atau alasannya apakah ada dalam Al-Qur’an dan hadits atau tidak.

B. Hukum Taqlid

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/sholat-rawatib/

Ada tiga macam taqlid, yaitu:

1) Taqlid yang haram

Para ulama sepakat haram melakukan taqlid yang semacam ini. Taqlid ini terdiri atas tiga macam, yaitu:
· Taqlid semata-mata mengikuti adat kebiasaan atau pendapat nenek moyang atau orang-orang dahulu kala, yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits.
· Taqlid kepada orang atau sesuatu yang tidak diketahui kemampuan dan keahliannya. Seperti orang yang menyembah berhala, tetapi ia tidak mengetahui kemampuan, kekuasaan atau keahlian berhala tersebut.
· Taqlid kepada perkataan atau pendapat seseorang, sedang yang bertaqlid mengetahui bahwa perkataan atau pendapat itu salah.

Sehubungan dengan taqlid yang diharamkan diatas Ad Dahlawi mengatakan bahwa tidak boleh seseorang awam bertaqlid kepada seorang ulama dengan anggapan bahwa ulama itu tidak mungkin salah atau dengan anggapan bahwa semua yang dikatakan ulama itu pasti benar, serta enggan mengikuti perkataan atau pendapat orang lain sekalipun ada dalil yang membenarkan pendapat atau perkataan itu.

2) Taqlid yang dibolehkan

Ad Dahlawi berkata: taqlid yang dibolehkan adalah taqlid dalam arti mengikuti pendapat seorang alim, karena belum nyata hukum Allah dan Rasul-Nya namun akan segera meninggalkan pendapat itu bila ternyata berlawanan dengan hukum Allah dan Rasul-Nya.

Seperti seorang mengikuti pendapat seorang mujtahid yang menyatakan jika seseorang tidak sempat mengerjakan shalat Ashar, ia boleh mengadhanya pada shalat maghrib berikutnya. Untuk sementara pendapat ini diikuti dahulu karena belum tau dasar hukumnya, dengan syarat selalu berusaha mengetahui alasan pendapat mujtahid itu. Seandainya kemudian diketahui pendapat mujtahid itu mempunyai dasar yang benar, maka pendapat itu boleh tetap diikuti. Tetapi jika kemudian ternyata bahwa pendapat itu mempunyai alasan yang tidak benar, maka pendapat itu akan ditinggalkan.

3) Taqlid yang diwajibkan

Wajib bertaqlid kepada orang yang perkataannya dijadikan sebagai dasar hujjah, yaitu perkataan dan perbuatan Rasulullah saw.