PEMBAHASAN ITTIBA’

PEMBAHASAN ITTIBA’

PEMBAHASAN ITTIBA’

A. Pengertian Ittiba’

Kata “ittiba’” adalah kata kerja (fi’il)nya “ittaba’a”, “yattabi’u”, “ittiba’an”, “muttabi’un”, yang berarti “menurut” atau “mengikuti”.Orang yang mengikuti disebut “muttabi’.
Menurut ulama ushul fiqh, ittiba’ adalah: mengikuti atau menurut semua yang diperintahkan, yang dilarang dan dibenarkan Rasulullah saw. Dengan perkataan lain ialah melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam sesuai dengan yang dikerjakan Nabi Muhammad saw, baik berupa perintah atau larangan.

B. Macam-macam ittiba’

Ada dua macam ittiba’, yaitu ittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya dan ittiba’ kepada selain Allah dan Rasul-Nya.
a. Ittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya
Sepakat para ulama bahwa seluruh kaum muslimin wajib mengikuti perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, sebagaimana firman Allah SWT:

ا تبعواماانزل ا ليكم من ربكم ولا تتبعوامنن دو نه ا ولياء قليلا ما تذكرون
Artinya: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin selain-Nya.Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)”.(Q.S 7:2).
Ayat diatas memerintahkan dengan tegas agar kaum muslimin melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya yang terdapat dalam Al-Qur’an, seperti perintah mengerjakan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan puasa bulan Ramadhan dan sebagainya. Sedang larangan-Nya seperti larangan mempersekutukan Allah, larangan makan darah, minum khamar dan sebagainya. Jika kaum muslimin wajib melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, berarti mereka wajib pula mengikuti Rasul yang telah diutus-Nya, karena beliaulah yang menyampaikan maksud wahyu Allah SWT.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/nama-bayi-perempuan-islami/

b. Ittiba’ selain kepada Allah dan Rasul-Nya.
Imam bin Hambal menyatakan bahwa ittiba’ itu hanya dibolehkan kepada Allah, Rasul-Nya dan para sahabat saja. Tidak boleh kepada yang lain. Pendapat yang lain membolehkan berittiba’ kepada para ulama yang dapat dikategorikan sebagai ulama waratstul anbiyaa’ (ulama sebagai pewaris para nabi). Mereka beralasan dengan firman Allah SWT:

وما ارسلنا من قبلك الارجالانو حي ا ليهم فسالوااهل الذكران كنتم لا تعلمون

Artinya:” Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui”. (Q.S. 16:43)

C. Tujuan Ittiba’

Seseorang yang akan melakukan ittiba’ tidak memerlukan syarat-syarat seperti yang dilakukan seorang mujtahid. Jika ia tidak sanggup memecahkan suatu persoalan agama ia wajib bertanya kepada seorang mujtahid atau orang-orang yang benar-benar mengerti hukum agama Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Setelah ia menerima jawaban dan ia benar-benar yakin bahwa jawaban itu sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits, maka hendaklah ia mengamalkannya