Mewujudkan FAH Profesional, Kreatif, Inovatif, dan Responsif

Mewujudkan FAH Profesional, Kreatif, Inovatif, dan Responsif

Mewujudkan FAH Profesional, Kreatif, Inovatif, dan Responsif

Mewujudkan FAH Profesional, Kreatif, Inovatif, dan Responsif
Mewujudkan FAH Profesional, Kreatif, Inovatif, dan Responsif

KEHADIRAN pemimpin baru, Dr Setia Gumilar, M.Si di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Bandung sangatlah penting untuk membangkitkan lagi energi positif di kalangan civitas akademika bahwa fakultas ini memiliki daya saing tinggi dan unggul seperti fakultas-fakultas lainnya.
Dr Setia Gumilar, S.Ag, M.Si
Dr Setia Gumilar, S.Ag, M.Si

Kreatif, inovatif, dan responsif menuju persaingan global, itulah visi kepemimpinannya.

Dengan harapan, FAH bisa melahirkan sastrawan, sejarawan dan budayawan muslim yang berpengetahuan luas dan bersikap cendekia.

Dr Setia akan melakukan langkah-langkah prioritas dalam mengembangkan FAH, melalui peningkatan mutu layanan Tri Dharma Perguruan Tinggi: profesionalisasi sivitas akademika yang dijiwai oleh sikap inovatif, kreatif, dan responsif; memaksimalkan layanan elektronik dengan menggunakan SIMAK: peningkatan kesejahteraan sivitas akademika sesuai dengan kebutuhan: efisiensi sarana prasarana untuk menunjang kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi; dan memelihara lingkungan FAH yang indah dan asri.

Menurut Dr Setia, FAH tidak terlepas dari masalah internal dan eksternal. Ranah internal

berkaitan dengan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi dan ranah eksternal adalah tantangan global yang menuntut kesiapan lembaga pendidikan untuk memberikan sumbangsihnya berupa gagasan yang kreatif, inovatif, dan responsif terhadap sejumlah proses dan dampak dari globalisasi.

Di bidang pendidikan, masalah kualitas sumber daya manusia (dosen dan mahasiswa) menjadi perhatian utama, karena sangat penting dalam menentukan standarisasi keberhasilan program pendidikan. Problemnya, kondisi dosen dan mahasiswa masih kurang memenuhi standar akademik, selain belum tertatanya profesionalisme di setiap program studi.

Mahasiswa pun masih memahami proses pendidikan sebagai kegiatan rutin, belum menyentuh ruh pendidikan,

sehingga menjadi penyebab rendahnya kualitas akademik.

Dalam bidang penelitian, motivasi dosen dan mahasiswa masih kurang. Ini terlihat dari minimnya hasil-hasil penelitian pada tiap semester. Begitupun di bidang pengabdian pada masyarakat, dosen masih memahaminya sebagai pekerjaan rutin yang berdasarkan pada bidang keagamaan. ”Pengabdian sesuai dengan keahliannya masih belum terlihat dengan baik. Bisa jadi, itu disebabkan oleh pengakuan masyarakat terhadap profesionalitas kita masih kurang,” jelasnya.

Ranah eksternal akan mampu diantisipasi manakala problem internal bisa berjalan dengan baik. Sebab, keduanya bersinergi. ”Mari kita pecahkan problematika FAH dengan kreativitas, berpikir inovatif, dan responsif menuju persaingan global. Bila kita gagal menyelenggarakan Tri Dharma Perguruan Tinggi berarti kita sudah menjadi penghambat bagi kemajuan generasi umat atau bangsa,” ajak Dr Setia.

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/sejarah-berdirinya-negara-israel/