Mengafani Jenazah dan Menguburkan Jenazah

Mengafani Jenazah dan Menguburkan Jenazah

Mengafani Jenazah dan Menguburkan Jenazah

Mengafani Jenazah dan Menguburkan Jenazah
Mengafani Jenazah dan Menguburkan Jenazah

Mengafani Jenazah

Yang dimaksud dengan mengafani ialah membungkus mayat dengan kain. Kain kafan dibeli dengan harta peninggalan mayat. Jika mayat tidak meninggalkan harta, maka kain kafan menjadi tanggungan orang yang menanggung nafkahnya ketika ia masih hidup. Jika yang menanggung nafkahnya juga tidak ada, maka kain kafan menjadi tanggung kaum muslimin yang mampu.

Kain untuk mengafani mayat paling sedikit satu lembar yang sanggup menutupi seluruh tubh mayat baik mayat pria atau perempuan. Bagi yang bisa disunnahkan untuk mayat pria dikafani dengan tiga lapis kain tanpa baju dan sorban, sedangkan untuk mayat wanita disunnahkan lima helai kain masing-masing untuk kain panjang (kain bawah), baju, tutup kepala, kerudung atau semacam cadar dan sehelai kain yang menutupi seluruh tubuhnya.

Kain kafan diutamakan yang berwarna putih, tetapi jikalau tidak ada, warna apa pun diperbolehkan dan diidiberi kapur barus serta harum-haruman. Dalam hadis dijelaskan: Artinya: “Dari Aisyah ra., Rasulullah saw.. sudah di kafani dengan tiga lapis kain yang putih membersihkan yang terbuat dari kapas. Tidak ada di dalamnya baju maupun sorban.” (HR. Muttaqaf ‘Alaih)

Pada hadis lain Rasulullah saw. bersabda:
Artinya: “Rasulullah saw. bersabda, Pakailah kain engkau yang putih sebab sebenarnya sebaik-baik kain ialah kain yang putih. Dan kafanilah oleh engkau dengan kain yang putih itu.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Menguburkan Jenazah

Baca Juga: Rukun Iman

Jenazah dikuburkan setelah di salatkan. Menguburkan mayat ini hendaknya disegerakan sebab sesuai dengan sabda Nabi saw.:
Artinya:
“Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, ‘Segeralah membawa jenazah, sebab jikalau orang yang saleh maka engkau menyegerakannya kepada kebaikan, dan jikalau ia bukan orang yang saleh maka semoga kejahatan itu termembuang dari tanggung engkau.”(HR. Jamaah)

Jenazah hendaknya dipikul oleh empat orang dan diantarkan oleh keluarga serta kawan-kawannya semasa hidup hingga ke pemakaman. Hadis wacana hal ini ditetapkan sebagai diberikut: Artinya: “Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata, Siapa yang mengantarkan mayat maka hendaklah memikul pada keempat penjuru keranda, sebab sebenarnya yang demikian itu ialah sunah.” (HR. Ibnu Majah)

Penguburan mayat sanggup dilakukan dengan cara-cara

Mula-mula digali liang kubur sepanjang tubuh mayat dengan lebar satu meter dan kedalaman lebih kurang dua meter. Di dasar lubang digali liang lahat miring ke arah kiblat kira-kira muat mayat, atau jikalau tanahnya simpel runtuh sanggup digali liang tengah. melaluiataubersamaini demikian hewan buas tidak sanggup membongkarnya atau jikalau mayat membusuk tidak tercuim baunya. Hadis wacana hal ini sebagai diberikut: Artinya: “Dari Amir bin Sa’ad, ia berkata, Buatkanlah untuk saya liang lahat dan pasanglah di atasku kerikil bata sebagaimana dibentuk untuk kubur rasulullah saw.”(HR.Ahmad dan Muslim)
Jenazah dimasukkan ke dalam liang lahat itu dengan miring ke kanan dan dihadapkan ke arah kiblat ke arah kiblat. Pada ketika melaksanakan mayat hendaklah dibacakan lafal: Artinya: “melaluiataubersamaini nama Allah dan atas agama Raslullah.” (HR. At-Turmudzi dan Abu Dawud)

Semua tali pengikat kain kafan dilepas. Pipi kanan dan ujung kaki ditempelkan pada tanah. Sesudah itu liang lahat atau liang tengah ditutup dengan papan kayu atau bambu, kemudian di atasnya ditimbun dengan tanah hingga galian luang rata, dan ditinggalkan dari tanah biasa. Di atas arah kepala didiberi tanda kerikil nisan. Hal ini dijeleskan dalam hadis sebagai diberikut: Artinya: “Sesungguhnya Nabi saw. sudah meninggikan kubur putra ia Ibrahim kira-kira sejengkal.” (HR. Al-Bukhari)
Meletakkan pelepah yang masih berair sesuai dengan hadis dari Ibnu Abbas, atau meletakkan kerikil di atas kubur dan menyiramkannya dengan air di atas kubur. Hadis Nabi saw. sebut: Artinya: “Dari Ja’far bin Muhammad dari bapaknya, sebenarnya Nabi saw. sudah menaruh batu-batu kecil diatas kubur putra ia Ibrahim.” (HR. Asy-Syafi’i) Hadis lain menyatakan sebagai diberikut: Artinya: “Dari Ja’far bin Muhammad dari bapaknya, sebenarnya Nabi saw. sudah menyiram kubur putra ia Ibrahim.” (HR. Asy-Syafi’i)
Mendoakan dan memohonkan ampunan kepada mayat. Hadis wacana hal ini sebagai diberikut: Artinya: “Dari Usman ra., ialah Nabi saw. apabila sudah selesai menguburkan mayat, ia bangun di atasnya dan bersabda, Mohonkanlah ampunan untuk saudaramu dan mintakanlah untuknya semoga didiberi ketabahan sebab sebenarnya ia kini sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud)