Memilih Negeri Sendiri

Memilih Negeri Sendiri

Untuk mengembangkan ilmunya dalam berdakwah, beliau memutuskan hijrah ke kota Pontianak. Sebenarnya Pontianak bukanlah tujuan sebenarnya, karena ia ditawari menjadi imam besar di Kucing, Malaysia. beliau layak mendapat tawaran itu, mengingat kapasitas keilmuan beliau, ditambah lagi beliau mampu berbahasa Inggris, Arab, dan juga Belanda.
Tak lama beliau berada di Pontianak, kemudian beliau hijrah untuk berdakwah ke negeri seberang tersebut. “Saya ke sana bukan berarti menerima tawaran menjadi imam besar di sana,” ucapnya. Tak lain tujuan beliau ke Malaysia adalah untuk merasakan atmosfer dakwah di sana.
Sesampainya di Malaysia, fasilitas mewah menyambut beliau. Mulai dari tempat tinggal hingga mobil yang siap mengantarnya ke tempat tujuan untuknya dan untuk keluarganya. Habib Ridho diajak berkeliling untuk berdakwah di beberapa tempat di Malaysia, seperti Kuala Lumpur dan Johor,beliau juga sempat bertemu mufti Serawak.
Setelah empat puluh lima hari berdakwah di Malaysia, beliau memutuskan untuk kembali ke Pekalongan, guna berunding dengan keluarga, keputusan apa yang nantinya harus diambilnya. Sebelum ke Pekalongan, entah apa yang membuat beliau kembali singgah sejenak di Pontianak, kota yang juga dikenal dengan nama “Khun Tien” oleh etnis Tionghoa di sana.
Selain kepada keluarga, Habib Ridho juga menceritakan kebimbangannya dalam mengambil keputusan kepada salah seorang gurunya, yaitu Habib Sholeh Al-Haddad, yang meskipun tak mampu melihat ia adalah seorang hafizh atau penghafal Al-Qur’an. Mendengar kebimbangan tersebut, Habib Sholeh memberikan jawaban singkat namun menenangkan hati, “Kamu lebih baik tinggal di Pontianak, dan dirikan pesantren. Lebih baik tinggal di Pontianak. Di sana masih kurang pendakwah. Saya melihat, kamu sangat potensial.”
Berbekal ucapan Habib Sholeh tersebut, beliau kembali merundingkannya dengan keluarga. Rupanya keluarganya senada dengan Habib Soleh. Mereka lebih memilih untuk tinggal di Pontianak. Memakmurkan negeri sendiri dengan ilmu.
Mendengar hal tersebut, Habib Ridho merasa lega, orang-orang yang dia cintai yang selalu berada di sekitarnya tidak silau akan harta dunia semata. Padahal, jika memilih Kuching, Malaysia, tentu lebih menggiurkan secara ekonomi. Tapi bukan itu yang dicari olehnya dan juga keluarganya.

Salafi Modern

Begitu menetap di Pontianak, beliau membuka pesantren sesuai pesan Habib Sholeh. Namun bukan pesantren miliknya semata, melainkan pesantren yang didirikan oleh beberapa orang, termasuk diri beliau. Pesantren As-Salam, begitu namanya.
Pesantren yang didirikan bukan oleh satu orang tentu akan menimbulkan banyak ide dan pemikiran, yang terkadang bersinggungan dengan berbagai kepentingan yang lain. Maka, agar bisa lebih fokus dengan ide-idenya sendiri, beliau pun membangun pesantren sendiri. Pesantren tersebut ia beri nama “Pesantren Darunna’im”.
Alasan lain pendirian pesantren ini adalah demi mempersatukan umat Islam, tanpa memandang ras atau etnik. Sebagaimana diketahui, saat itu terjadi pergesekan antara ras di Pontianak.
Gayung bersambut, langkah beliau mendirikan pesantren dengan niat mulia tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah setempat, bahkan juga B.J. Habibie, yang menjabat presiden kala itu. “Saya sempat bertemu dengan beliau (B.J. Habibie) dan menyampaikan niat mendirikan pesantren dengan tujuan tersebut. Beliau menyambutnya dengan sangat baik,” kata Habib Ridho.
Meski mendapat sambutan sangat baik dari berbagai pihak, itu semua tak membuat beliau serta merta mendapatkan kelancaran. Di tahun pertama pembukaan, hanya ada enam santri. Habib Ridho tak patah arang,beliau beberapa kali meminta masukan ke Habib Salim Asy-Syathiri.
Alhamdulillah, kini Pesantren Darunna’im bisa dibilang cukup maju. Santrinya pun sudah lebih dari 300 orang. Dalam pelajaran bahasa, selain diajarkan bahasa Arab dan Inggris, di pesantren tersebut juga diajarkan bahasa Mandarin, mengingat banyaknya etnis Tionghoa di Kota Pontianak tersebut.
Habib Ridho juga menerapkan sistem pesantren yang disebutnya “salafi modern”. Beliau menyebut demikian karena pengajarannya tetap menggunakan kitab-kitab para salaf. Santri yang belajar di tempat ini juga diharuskan memakai gamis dan imamah. Pesantren ini pun tak jarang dikunjungi tokoh ulama termasyhur, Habib Umar Bin Hafidz misalnya.
Kini bukan hanya pesantren yang berdiri di area tersebut, tapi juga ada masjid megah yang tak kalah dengan masjid agung di Pontianak. Ada pula paviliun yang fasilitasnya setara dengan hotel berbintang yang diperuntukkan bagi para tamu guna beristirahat.
sumber :