MBA Energy Management di Aberdeen

MBA Energy Management di Aberdeen

MBA Energy Management di Aberdeen

MBA Energy Management di Aberdeen
MBA Energy Management di Aberdeen

Kali ini saya akan ceritakan kuliah di University of Aberdeen jurusan MBA Energy Management. University of Aberdeen merupakan universitas yang sangat terkenal dengan bidang energi (terutama migas) dan kedokteran (terutama riset kanker). Saat tulisan ini dibuat, kampus ini menempati ranking 158 dunia (menurut Times Higher Education). Program energy management di sini memiliki akreditasi dari the Energy Institute.

Kuliah yang saya ambil ini menggunakan sistem blok, yaitu satu mata kuliah selesai dalam waktu 3 minggu, terdiri dari minggu persiapan, minggu belajar-mengajar di kelas, dan minggu ujian. Selesai ujian biasanya langsung masuk minggu persiapan untuk mata kuliah berikutnya. Enaknya, 3 minggu fokus untuk 1 mata kuliah. Nggak enaknya, padet bgt kuliahnya. Di minggu belajar-mengajar, jam kuliah mulai dari 8.30-16.00 kadang tembus sampai malam kalau ada simulasi atau tugas yang harus diselesaikan.

Pemahaman satu mata kuliah diuji dalam bentuk 30% pekerjaan kelompok, 40% analisis kritis, dan 30% implementasi kasus atau refleksi diri. Ini membentuk 100% skor untuk satu mata kuliah. Program saya tidak ada ujian pilihan ganda, direktur program mengatakan di awal perkuliahan bahwa mereka tidak bisa ‘membentuk’ manajer dan pemimpin yang hebat dengan cara hafalan. Apalagi di era sekarang ini, informasi atau formulasi perhitungan bisa dengan mudah di-google. Oleh karena itu, perkuliahan selalu mengenai simulasi-latihan komunikasi-manajemen tim kecil, dan yang paling penting adalah analisis kritis dengan cara triangulasi.

Berikut penjabaran perkuliahan saya…

30% kerja kelompok, bagi saya ini adalah bagian paling tidak menyenangkan, karena saya harus bekerja bersama tim yang terdiri dari orang-orang dengan high quality profile, tidak ada hierarki atau sistem, dan setiap orang cenderung ingin mengendalikan hasil dari kerja kelompok (dalam kata lain: semua ingin mendapat nilai A). Tim akan berbeda untuk mata kuliah yang berbeda, dan ini meningkatkan kerumitan dalam kerja kelompok.

Dulu saya sangat tidak suka dengan kerja kelompok. Sangat sulit bekerjasama dengan orang-orang yang ingin mengendalikan tim untuk mendapat A. Namun, lama-lama saya belajar bahwa:

  1. Kepemimpinan itu bukan mengenai kendali, namun mengenai pengaruh. Memberi pengaruh yang dapat menggerakkan orang lain menuju tujuan kita. Untuk membuat pengaruh, kita tidak perlu berdiri di depan untuk memimpin atau jadi alpha-men. Berdasar pengalaman kerja kelompok saya, kekacauan tim terjadi ketika lebih dari satu orang ingin memimpin dengan cara mengendalikan tim. Kondisi akan menjadi parah jika ada yang ‘bertindak seperti ketua’. Di sini saya jadi ingat isi essay LPDP saya mengenai kepemimpinan yang diajarkan Ki Hajar Dewantoro. Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Setiap orang punya kepemimpinannya sendiri, tapi pemimpin yang baik harus bisa menempatkan diri, bagi saya seperti ajaran Ki Hajar Dewantoro tersebut.
  2. Seperti yang dosen saya katakan di semester hampir akhir, sebagian besar permasalahan organisasi adalah pada komunikasi. Berdasarkan pengalaman saya, teman-teman saya rata-rata pintar, artinya mereka bisa menangani segala permasalahan teknis dan terkait informasi atau keilmuan. Namun, tim yang rumit adalah tim yang komunikasinya tidak berjalan baik. Ada orang yang tidak bisa menyampaikan pendapat dengan baik, ada yang tidak bisa menerima informasi dengan baik. Akan tambah rumit jika ditambah persepsi, misalnya ‘ide si A itu nggak sebagus ideku atau si A ini dari negara berkembang ngapain didengerin.’
  3. Semua orang ingin jadi leader tanpa mau jadi follower. Ini sesuai dengan ceramah yang saya dapat di persiapan keberangkatan LPDP. Memang penyakitnya orang-orang yang berpendidikan ini cenderung tidak bisa bertindak sebagai follower yang baik, semuanya ingin jadi leader.

Sumber : https://jalantikus.app/