Macam-macam Mubtada

Macam-macam Mubtada


Mubtada itu terbagi menjadi dua bagian, yaitu mubtada yang zhahir dan mubtada yang mudhmar (dhamir). Mubtada zhahir penjelasannya telah dikemukakan.
Contoh Mubtada zhahir
(أنا قائم) Saya itu berdiri
(نحن قائمون) Kami itu berdiri

Sedangkan mubtada yang mudhmar (isim dhamir) ada dua belas, yaitu:  (saya),  (kami atau kita),  (kamu -laki-laki),  (kamu -perempuan),  (kamu berdua -laki-laki/perempuan),  (kalian -laki-laki),  (kalian -perempuan),  (dia -laki-laki),  (ia -perempuan),  (mereka berdua -laki-laki/perempuan),  (mereka semua -laki-laki,  (mereka semua -perempuan), seperti perkataan  (saya berdiri).
Adapun meng-i’rab-nya adalah sebagai berikut:  (saya) berkedudukan menjadi mubtada yang di-rafa’-kan, tanda rafa’-nya mabni sukun. Sedangkan lafazh   menjadi khabar-nya, di-rafa’-kan, tanda rafa’-nya dengan dhammah. Dan   (kami berdiri). Lafazh   berkedudukan menjadi mubtada, di-rafa’-kan, tanda rafa’-nya dengan mabni dhammah, sedangkan  menjadi khabar-nya, juga di-rafa’-kan, tanda rafa’-nya dengan wawu karena jamak mudzakkar salim.

Dan lafazh yang menyerupainya, seperti:

Selain pembagian diatas jika dilihat dari Khabarnya maka Mubtada terbagi menjadi dua, yaitu Mubtada yang mempunyai khabar, contohnya (محمد مبتسم) dan Mubtada yang tidak memiliki Khabar, akan tetapi mempunyai isim marfu’yang menempati posisi dari pada khabar, contohnya (أنائم الطفل = apakah bayi telah tidur) Naim adalah mubtada sedangkan Thifl adalah Fa’il yang menempati posisi khabar, contoh lain (ما محمود البخل = tidaklah terpuji orang kikir), mahmud = terpuji adalah mubtada dan bukhli adalah Naib Fa’il yang menempati tempatnya khabar.
Mubtada yang memiliki khabar haruslah terdiri dari isim sharih atau dhahir ataupun yang telah dita’wilkan menjadi mashdar yang sharih, sedangkan mubtada yang tidak memiliki khabar tidak boleh menta’wilkannya dan penggunaanya haruslah selalu disertai dengan Nafyu atau istifham.
Adapun Isim marfu’yang terletak setelah mubtada yang tidak memiliki khabar yang dibarengi oleh Nafyu atau istifham maka kedudukannya dalam I’rab kalimat adalah sebagai berikut:
a.    Apabila menunjukkan kepada sifat yang tunggal dan setelahnya adalah isim yang tunggal contohnya (أ مسافر الرجل) atau (ما محبوب الكسول) maka I’rabnya ada dua kemungkinan, Pertama: sifat yang pertama setelah istifham (musafir) adalah mubtada dan setelahnya adalah Fa’il karena letaknya setelah Isim Fa’il, atau Naib Fa’il apabila terletak setelah isim maf’ul, keduanya marfu’menempati kedudukan khabar. Kedua: Sifat yang pertama (musafir) adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) sedangkan kata (rajul) adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar).
b.    Apabila sifat yang pertama menunjukkan pada isim tunggal kemudian setelahnya adalah Mutsanna (yang menunjukkan bentuk dua) atau Jamak, maka sifat yang pertama adalah mubtada dan isim setelahnya tersebut adalah Fa’il atau naib fa’il yang menempati posisi khabar, contoh (ما مهمل الطالبان) dan   (ما محبوب المقصرون) kata Muhmil adalah mubtada sedangkan thalibani adalah Fa’il karena terletak setelah isim Fa’il, dan kata Mahbub adalah mubtada sedangkan Muqshirun adalah Naíb Fa’il karena terletak setelah Isim Maf’ul.
c.    Apabila sifat yang pertama berbentu dua (mutsanna) atau Jamak dan setelahnya adalah mutsanna atau jamak maka isim yang pertama adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) dan isim yang setelahnya adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar), contohnya (أ مسافران الضيفان) dan       (ما مقصرون المجتهدون), kata musafirani dan muqshirun adalah khabar muqaddam sedangkan dhaifani dan mujtahidun adalah Mubtada muakkhar.

sumber :

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/