Ketuban Pecah Dini, Penyebab, Penilaian Klinik, dan Penanganannya

Ketuban Pecah Dini, Penyebab, Penilaian Klinik, dan Penanganannya

Ketuban Pecah Dini, Penyebab, Penilaian Klinik, dan Penanganannya

Ketuban Pecah Dini, Penyebab, Penilaian Klinik, dan Penanganannya
Ketuban Pecah Dini, Penyebab, Penilaian Klinik, dan Penanganannya

Definisi

Ketuban pecah dini ialah ketuban pecah sebelum ada tanda-tanda persalinan mulai dan ditunggu satu jam belum terjadi in partu.
Tanda-tanda persalinan yang dimaksud adalah kontraksi uterus yang teratur disertai pembukaan/pendataran serviks, yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang 5 cm. ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obtruksi berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi  khorioamnionitis, polihidramnion, inkopetensia serviks atau trauma.
Pada kehamilan aterm KPD mungkin suatu gejala fisiologik masalah ketuban pecah terutama pada kehamilan preterm perlu mendapat perhatian khusus karena fungsi air ketuban yang ternyata sangat mempengaruhi jalannya kehamilan maupun persalinan.

Penyebab

KPD disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intra uteri atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi  yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian juga ialah bila bagian terendah janin belum masuk p.a.p/terdapat kelainan letak, dapat menimbulkan prolapsus tali pusat.
Beberapa penyebab ketuban pecah dini :
  1. Serviks inkompeten
  2. Overdistensi uterus
  3. Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vit C rendah, kelainan genetik)
  4. Pengaruh dari luar yang melemahkan ketuban (infeksi genetalia, meningkatnya enzim proteolitik)
  5. Penyebab umum KPD adalah multi/grandemulti, overdistensi, CVD, kelainan letak, pendular abdomen.

Penilaian Klinik

  • Tentukan pecahnya selaput ketuban. Ditentukan dengan adanya cairan ketuban divagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian bawah janin atau meminta pasien batuk untuk mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat dipastikan dengan cara:

-Memeriksa adanya cairan yang berisi mekonium, Velniks keseosa, dan rambut lanugo.

-Tes lakmus (hitmus): Alkalis lakmus merah berubah menjadi biru (basa)> air ketuban darah dan inveksi vagina dapat menghasilkan tes positif palsu.

-Tes pakis, dengan menentukan cairan ketuban pada gelas obyek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan kristal cairan amnion dan gambaran daun pakis.

  • Jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan, kelainan janin.
  • Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG.
  • Tentukan ada tidaknya infeksi

Tanda-tanda infeksi :

– Bila suhu ibu > 38 derajat C
– Air ketuban keruh dan berbau

Pemeriksaan air ketuban dengan pemeriksaan tes LEA (leukosit ester ase) lekosit darah > 15.000/mm. Janin yang mengalami infeksi interuterin.

  • Tentukan tanda-tanda inpartu. Tentukan adanya kontraksi yang teratur, periksa dalam, lakukan bila akan dilakukan penanganan aktif (terminsi kehamilan) antara lain untuk menilai skor pelvik.

Penanganan

  • Secara garis besar penanganan KPD tergantung pada kehamilan, seperti ( KPD < 36 Mg : Konsevatif > 36 Mg : Aktif).
  • Tindakan konservatif yang dimaksud adalah :

~ Istirahat

~ Berikan anti biotika (ampicilin 4×500 mg eritrmisin bila tak tahan ampisilin) dan metronidazal 2×500 mg selama 7 hari.
~ Jika umur kehamilan < 32-34) mg, dirawat selama air ketuban masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi
~ Jika umur kehamilan 32-37 mg, belum inpartu tidak ada infeksi dan kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 mg.
~ Jika usia kehamilan 32-37 mg, sudah inpartu, tidak ada infeksi berikan tokologik (salbutamol), deksametason dan induksi sesudah 24 jam.
~ Jika kehamilan 32-37 mg ada infeksi berikan antibiotik dan lakukan induksi.
~ Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, lekosit, tanda-tanda infeksi intrauterine)
~ Pada usia kehamilan 32-34 mg berikan steroid untuk memacu kematangan perut janin dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitia spigimelin tiap minggu. Dosis betametazon 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametazon i.m setiap 6 jam sebanyak 4 kali.
  • Tindakan konsernatif berubah menjadi aktif bila :
– Umur kehamilan mencapai 36 mg
– Terdapat tanda-tanda infeksi (demam, tacikardi, ketuban berbau, peningkatan lekosit > 15.000/mm
  • Tindakan aktif yang dimaksud ialah :
– Kehamilan > 37 mg induksi dengan oksitosin, bila gagal secsio sesarea, dapat pula diberikan misoprostol 50 mg intervaginatal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
– Bila tanda-tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan perasalin diakhiri.
a. Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi. Jika tidak berhasil akhiri dengan secsia sesarea.
b. Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan, partus pervaginam
Baca juga: