Kepala Sekolah Sebagai Inovator Pendidikan

Kepala Sekolah Sebagai Inovator Pendidikan

Kepala Sekolah Sebagai Inovator Pendidikan

Kepala Sekolah Sebagai Inovator Pendidikan
Kepala Sekolah Sebagai Inovator Pendidikan

 

Kepala sekolah pada dasarnya adalah

seorang pemimpin pendidikan di sekolah. Sebagai pemimpin pendidikan maka dituntut untuk memiliki kemampuan mempengaruhi membimbing, menyuruh, memerintah, melarang, serta membina dengan maksud agar bawahan sebagai media manajemen dalam hubungan ini guru-guru mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Berbagai hal yang dapat dilakukan oleh seorang kepala sekolah untuk dapat tercapainya tujuan pendidikan di sekolah diantaranya adalah melakukan pembaharuan manajemen di sekolahnya atau melakukan pembaharuan dalam bidang administrasi pendidikan. Danim (2002) menjelas-kan dengan mengutip pendapatnya Coombs bahwa pembaharuan dalam bidang pendidikan harus diawali dengan revolusi dalam bidang administrasi pendidikan. Ini berarti sekolah harus dikelola dengan administrasi yang inovatif.

Kepala sekolah atau pemimpin pendidikan

yang ingin atau akan sukses dituntut untuk mengadakan inovasi sehingga mampu menampung dinamika perkembangan yang terjadi di luar sistem pendidikan. Dengan demikian fungsi pemimpin dalam melakukan pembaharuan atau inovasi adalah (a) fungsi tanggap terhadap terhadap inovasi, (b ) fungsi mengharmoniskan atau mengkom-plementasikan atau fungsi pembinaan, dan (c) fungsi pengarahan (Muhadjir. 1983). Lebih lanjut Muhadjir juga menjelaskan bahwa dalam hubungannya dengan fungsi pemimpin dalam melakukan pembaharuan tersebut ada dua macam. Pemimpin yang cepat-cepat tanggap terhadap inovasi, dan pemimpin tidak tanggap terhadap inovasi. Pemimpin yang cepat-cepat tanggap terhadap inovasi disebutnya dengan pemimpin adopsi inovasi.

Kepala sekolah sekolah sebagai pemimpin

hendaknya menjadi pemimpin adopsi inovasi, lebih dari itu seorang kepala sekolah dalam melakukan inovasi dituntut untuk berani mengambil resiko, proaktif, dan kemitmen pada tugasnya. Tugas lainnya yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai inovator adalah membantu kelancaran jalannya arus inovasi dari pemerintah, oleh para ahli, para kepala sekolah, atau guru yang senior terhadap kliennya atau guru-guru unior yang lainnya. Kelancacaran jalannya proses arus inovasi atau komunikasi inovasi tersebut terjadi apabila inovasi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dari kliennya atau sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Ibrahim (1988) dengan mengutif pendapatnya Rogers menjelaskan bahwa untuk berhasilnya seorang kepala sekolah melaksanakan pembaharuan atau inovasi, maka kepala sekolah tersebut supaya berpedoman pada beberapa faktor.
Pertama, kegigihan yang dilakukan oleh kepala sekolah yang terlihat dari banyaknya bawahannya yang dihubungi untuk berkomunikasi, banyaknya waktu yang digunakan, ketepatan memilih waktu, banyaknya keaktifan yang dilakukan dalam proses inovasi. Keberhasilan pembaharuan kepala sekolah akan berhubungan positif dengan besarnya usaha mengadakan kontak dengan bawahannya.
Kedua, orientasi pada bawahan. Posisi kepala sekolah harus bertanggung jawab terhadap pelaksanaan keberhasilan pembaharuan dalam pendidikan di sekolahnya, di satu sisi ia juga bekerja bersama dan untuk memenuhi kepentingan bawahananya. Kepala sekolah harus mengambil kebijakan yang berorientasi pada bawahan, menunjukkan keakraban dengan bawahannya, memperhatikan kebutuhan bawahan, sehingga akan memperoleh kepercayaan yang besar dari bawahan. Dengan demikian keberhasilan kepala sekolah melaksanakan pembaharuan berhubungan positif dengan orientasi pada bawahan dari pada berhubungan dengan pmemerintah sebagai penentu kebijakan inovasi.
Ketiga, Sesuai dengan kebutuhan bawahan. Banyak terbukti usaha inovasi gagal karena tidak mendasarkan pada kebutuhan bawahan, tetapi lebih mengutamakan pada target inovasi sesuai dengan kehendak pemerintah sebagai pembuata kebijakan inovasi. Sehingga keberhasilan kepala sekolah dalam melaksanakan pembaharuan akan berhubungan dengan kesesuaian program difusi dengan kebutuhan bahawan.
Keempat, emphati. Kepala sekolah apabila dapat bersikap emphati dalam melaksanakan komunikasi dengan bawahannya akan sangat mempengaruhi efektifitas komunikasinya. Komunikasi yang efektif akan lebih memudahkan menerima suatu inovasi.
Kelima, homophily. Homophily adalah pasangan individu yang berinteraksi dengan memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang sama misalnya dalam bahasa, kepercayaan, adat istiadat. Biasanya agen pembaruan akan lebih suka komunikasi dengan bawahan yang memiliki persamaan dengan dia.
Keenam, kontak kepala sekolah dengan bawahannya yang berstatus lebih rendah. Sebenarnya bawahan yang lebih rendah kemampuan ekonominya, bawahan yang lebih rendah pendidikannya, harus lebih banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari kepala sekolah.
Ketujuh, para profesional. Pembantu para profesional ialah orang yang bertugas membantu kepala sekolah agar terjadi hubungan dengan bawahan yang bersetatus lebih rendah. Pembantu para profesional dari segi pengetahuan tentang pembaharuan dan teknik penyebaran inovasi kurang dari kepala sekolah. Tetapi dia akan lebih dekat dengan bawahan sehingga memungkinkan untuk kontak secara lebih banyak.
Kedelapan, kepercayaan bawahan terhadap kepala sekolah. Pembantu agen pembaharu kurang memperoleh kepercayaan dari bawahan, jika ditinjau dari kompetensi profesional karena memang ia bukan profesional. Tetapi pembantu para kepala sekolah memiliki kepercayaan dari bawahannya karena adanaya hubungan yang lebih akrab sehingga tidak timbul kecurigaan. Bawahan akan percaya kepada pembantu kepala sekolah karena keyakinannya akan membawa kebaikan bagi dirinya yang disebut kepecayaaan keselamatan.
Kesembilan, kemampuan bawahan untuk menilai inovasi. Salah satu keunikan kepala sekolah dalam inovasi adalah memiliki kemampuan teknik yang menyebabkan ia berwewenang untuk bertindak sesuai dengan keahliannya. Namun untuk dapat berhasil inovasi tersebut bawahan dituntut untuk memiliki kemampuan teknik dan kemampuan dalam menilai potensi inovasi yang dicapainya sendiri.