Faqr

Faqr

Faqr
Faqr

Ibrahim bin Ahmad al-Khawash berkata, “ Kefakiran itu selendang kemuliaan, pakaian para rasul, jubah orang-orang saleh, mahkota orang-orang yang bertaqwa, perhiasan orang-orang mukmin, pengangkat derajat, dan kemuliaan orang-orang baik yang menjadi walinya. Kefakiran adalah simbol orang-orang saleh dan kebiasaan orang-orang bertaqwa.”[23] Dalam pandangan sufi, faqr diartikan tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dimiliki dan merasa puas dengan apa yang dimiliki sehingga tidak meminta sesuatu yang lain.[24] Sedangkan menurut Al-Ghazali kefakiran diartikan sebagai ketak-tersedianya apa yang dibutuhkan oleh seseorang atau sesuatu. Maka dalam arti ini, seluruh wujud selain Allah adalah fakir karena mereka membutuhkan bantuan tuhan untuk kelanjutan wujudnya.[25]Sementara itu, Allah telah menyebutkan sifat-sifat orang fakir dalam al-qur’an:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِيْنَ أُحْصِرُوْا فِى سَبِيْلِ اللهِ لاَ يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الأَرْضِ يَحْسَبُهُمْ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمَاهُم لاَ يَسْئَلُوْنَ النَّاسَ إِلْحَافًا.
“ Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui”.[26]
Orang-orang fakir juga memiliki tiga tingkatan, antara lain:
a. orang yang tidak memiliki apa-apa dan tidak meminta apa pun kepada seseorang, baik secara lahir maupun batin. Ia tidak menunggu apapun dari seseorang. Jika diberi sesuatu, ia tidak mengambilnya. Kedudukan spiritual ini adalah kedudukan al-muqarrabuun (orang yang didekatkan pada Allah).
b. orang yang tidak memiliki apapun. Namun ia tidak minta kepada siapapun, tidak mencari dan juga tidak memberi isyarat atas kefakirannya. Jika diberi sesuatu tanpa meminta lebih dahulu maka ia akan mengambilnya.
c. orang yang tidak memiliki apa-apa. Jika ia membutuhkan sesuatu ia akan mengungkapkannya kepada sebagian temannya yang ia kenal, yang mana bila ia mengungkapkan kepadanya ia akan merasa senang.
5. Sabar
Menurut pandangan Dzun Nun al-Misri, sabar berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetap tenang dalam menghadapi cobaan dan menampakan sikap cukup, walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran.[27]Maqam sabar yang dilakukan ahli tasawuf akan mengantarkan untuk mencapai tujuan yaitu dicintai Allah atau bersama dengannya. Yang dapat didasarkan pada QS. 46:35

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَأُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلاَ تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوْعَدُوْنَ لَمْ يَلْبَثُوْا اِلاَّ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلاَغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ الاَّ الْقَوْمُ الْفَاسِقُوْنَ.

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik”.
Imam Ghazali menyampaikan pentingnya sabar sebagai sikap yang harus selalu mendasari setiap macam ibadah. Karena dengan sikap tersebut, hamba tidak akan pernah merasakan keberatan menjalankan ibadah, hingga sikap sabar dapat mengantarkan hamba mencapai inti ibadah yang sebenarnya.[28]
Menurut pendapat Ibnu Taimiyah, sabar dalam menjauhi maksiat lebih tinggi tingkatannya dari pada sabar dalam menghadapi musibah. Sabar dalam menjauhi maksiat senantiasa dimiliki olehorang-orang yang bertaqwa dan para wali. Demikian juga menurut Sahal at-Tustari, bahwa perbuatan baik itu dapat dilakukan oleh orang baik dan orang dzalim, sedangkan yang mampu bersabar dalam meninggalkan maksiat hanyalah orang-orang yang benar.[29]

Baca Juga :