Cerpen Anak Ninis Juga Bisa Marali

Cerpen Anak Ninis Juga Bisa Marali

Cerpen Anak Ninis Juga Bisa Marali

Cerpen Anak Ninis Juga Bisa Marali
Cerpen Anak Ninis Juga Bisa Marali

 

“Nis, Ninis….., Ayo kejar..!” Nia tamapak asyik bermain dengan kucingnya yang lucu.

Dia mengikat bola pada seutas tali dan memancing Ninis untuk mengejar bola tersebut dan bermain dengannya. Benar saja, Ninis mengejar bola yang dimainkan oleh Nia. Ketika sedang mengejar boal yang menggelinding kucing itu tampak semakin lucu dan menggemaskan. Nia lantas berteriak kegirangan melihat tingkah kucingnya yang lucu.

Tiba-tiba kucingnya berhenti mengejar bola dan terdiam di lantai. Mungkin Ninis kelelahan mengejar bola.

 

“Ninis, kok berhenti sih..?” Nia bertanya pada kucingnya.

Sementara kucing Nia yang diberi nama Ninis itu tetap tak bergerak dan merebahkan badannya di lantai.

“Ninis, ayo kejar lagi…!!” Nia mulai berteriak pada kucingnya.

“Ninis….!!!” Nia kelihatan mulai tidak sabar karena kucingnya tetap tidak mau mengejar bola.

“Ih Ninis, kok diam sih?”

 

“Ayo cepat main lagi sama Nia…!” Nia semakin kesal.

Ninis tetap terdiam di lantai. Nia melihat sebuah batu cukup besar berada di dekatnya. Nia lantas mengambilnya dan melemparkannya kearah kucingnya. Tak ayal lagi batu kerikil itu mengenai kaki Ninis. Ninis memekik  terkejut dan kesakitan. Dia mengeong dengan kuat seraya tersentak. Ninis lantas berlari menjauhi Nia dengan kaki pincang. Nia hanya mendengus kesal melihat kucingnya pergi menjauh.

Keesokan harinya Nia ingin kemabali bermain dengan kucingnya. Dia mencari dan memanggil Ninis berulang kali. Ninis tetap tidak menampakkan diri. Padahal biasanya Ninis akan segera dating jika Nia memanggilnya. Nia kebingungan dan terus berusaha mencari Ninis. Tapi percuma, Ninis tetap tidak ditemukan. Nia menjadi sangat gelisah.

 

Pagi berikutnya Ninis belum juga tampak di dalam rumah ataupun di pekarangan sekitar rumah.

Ketika berusaha mencari Ninis di pekarangan rumah Nia tersandung hingga kakinya terluka hingga mengeluarkan darah. Nia menangis sejadi-jadinya. Ibu yang sedang memasak di dapur kaget bukan main dan mencari asal suara tersebut. Ibu menemukan Nia dengan kaki yang terluka dan sedang menangis.

“Ada apa sayang? Kaki Nia kenapa?” tanya Ibu seraya memeriksa kaki Nia.

“Nia jatuh bu. Kesandung batu, aduh, sakit bu” adu Nia.

Ibu menggendong Nia ke dalam rumah dan membersihkan serta mengobati luka pada kaki Nia. Ibu lalu bertanya.

“Ada apa nia ke pekarangan rumah di sebelah? Ibu kan sudah bilang, disana ada banyak batu dan beling, tuh kaki Nia jadi luka”

“Nia cari Ninis bu…. Ninis hilang”

“Hilang? Hilang bagaimana?”

“Iya bu, hilang. Ga kelihatan sejak kemarin. Padahal sudah Nia panggil-panggil tapi tidak kelihatan juga”

“Ibu tahu, kemarin Nia lempar Ninis kan? Ibu lihat”

“Soalnya Ninis ga mau diajak main sih bu”

“Iya, tapi kan seharusnya tidak perlu sampai Nia lempar begitu. Pakai batu lagi. Kaki Ninis pasti sakit. Bagaimana kalau kaki Nia yang dilempar atau dipukul begitu? Pasti sakit kan? Seperti sekarang Nia jatuh tersandung, kaki Nia sakit kan?”

 

“Iya bu…. Sakit…” Nia menunduk dan menjawab pelan. Nia sudah menyadari kesalahannya.

“Nah, Ninis juga sakit kakinya karena Nia. Ninis mungkin marah sama Nia karena N ia telah menyakitinya. Nia tidak boleh begitu sama Ninis, juga pada binatang lainnya. Tuh lihat, akhirnya Ninis  marah dan dan tidak mau pulang karena takut sama Nia. Ninis pasti takut kalau-kalau Nia menyakitinya lagi. Mangerti sayang?” Ibu menjelaskan dengan bijak. Nia mengangguk pelan.

 

“Iya bu. Nia ngerti. Nia janji ga akan ulangin lagi” kata Nia.

“Ok. Nah sekarang, Nia istirahat saja, supaya lukanya cepat sembuh. InsyaAllah Ninis akan pulang secepatnya kerumah. Kalau Ninis lapar, Ninis akan segera pulang. Ya sayang?”

“Iya bu….”

 

Sumber : https://www.ilmubahasainggris.com/