Akuntansi

Akuntansi

Akuntansi

Akuntansi
Akuntansi

Selama berabad-abad akuntansi telah digunakan sebagai alat pelaporan keuangan suatu entitas kepada pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini, akuntansi dapat dikatakan sebagai bahasa bisnis yang digunakan oleh pelapor (entitas pelapor) untuk ’menceritakan’ kegiatan usahanya terkait dengan penggunaan uang ke pihak-pihak yang berkepentingan. Sebagai contoh, pemilik menyerahkan Rp1.000.000 ke entitas. Pada akhir periode, entitas telah mengolah Rp1.000.000 tadi menjadi Rp2.000.000. Tanpa diberi ’cerita’ mengenai apa yang telah entitas lakukan atas Rp1.000.000 yang diserahkan pemilik pada awal periode, pemilik tidak akan tahu perubahan Rp1.000.000 menjadi Rp2.000.000 asalnya dari mana.

Hingga saat ini, para teoris akuntansi masih belum sepakat mengenai definisi akuntansi. Beberapa dari mereka mendefinisi akuntansi sebagai seni, beberapa mendefinsi akuntansi sebagai sains terapan, dan beberapa mendefinisi akuntansi sebagai teknologi. Akuntansi dapat dikatakan sebagai kerajinan (art) karena orang yang akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan akuntansi harus terjun langsung dalam dunia praktik dan mengerjakan magang (apprenticeship) pada praktisi (Suwardjono, 2005). Sedangkan akuntansi disebut sebagai sains dengan penjelasan berikut ini (Stanley, 2007):

Accounting is comprised of general principles pertaining to the environment from which it draws and serves. It is an administrative information science [Salvary 1979;1985;1989;1992]. “A science often is described as a systematic body of knowledge; a complete array of essential principles or facts, arranged in a rational dependence or connection; a complex of ideas, principles, laws forming a coherent whole. . .” [Johnson; Kast; and Rosenzweig 1967:4]. Consistent with the foregoing description, accounting emerges as an empirical science. Specifically, it is concerned with events and measures relevant to efficient organizational control and planning.

Selain didefinisikan sebagai seni dan sains, akuntansi juga didefinisikan sebagai teknologi.  Dalam buku ini, penulis mendefinisikan akuntansi sebagai:

suatu teknologi yang digunakan oleh entitas untuk merekacipta data-data keuangan sehingga menjadi informasi yang bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan sebagai dasar pengambilan keputusan.

Dari definisi ini dapat ditarik empat kata kunci yaitu,

  • teknologi
  • perekaciptaan informasi keuangan
  • pengambilan keputusan
  • pihak-pihak yang berkepentingan

Teknologi berasal dari Bahasa Yunani technología (τεχνολογία) yang memiliki dua kata dasar yaitu téchnē (τέχνη), suatu ‘seni’ atau ‘keterampilan’ dan -logía (-λογία), ilmu yang mempelajari sesuatu atau cabang suatu pengetahuan. Organisation for Economic Cooperation and Development (2001) mendefinisikan teknologi secara luas sebagai,

“The currently known ways of converting resources into outputs desired by the economy” (Griliches, 1987) and appears either in its disembodied form (such as new blueprints, scientific results, new organizational techniques) or embodied in new products (advances in the design and quality of new vintages of capital goods and intermediate inputs).

Dalam definisi ini, teknologi adalah suatu cara untuk mengubah sumber daya menjadi hasil. Teknologi tidak harus dalam bentuk berwujud tetapi dapat juga dalam bentuk takberwujud. Akuntansi dapat dikatakan sebagai teknologi yang merupakan penerapan pengetahuan dan ketrampilan yang melibatkan proses perekaciptaan (engineering), dan digunakan untuk membantu manusia dalam mengolah data-data transaksi menjadi informasi keuangan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan.

Kata kunci kedua dari definisi akuntansi adalah perekaciptaan informasi keuangan. Saat ini, definisi perekaciptaan informasi keuangan telah bergeser menjadi lebih luas. Dahulu, definisi akuntansi terbatas pada perekaciptaan informasi keuangan kuantitatif, yaitu sistem yang mencatat dan mengolah data-data transaksi sehingga menjadi informasi keuangan kuantitatif. Sistem pengolahan transaksi ini diawali dari penjurnalan (pencatatan data transaksi), pemindahbukuan (posting), dan diakhiri dengan dihasikannya laporan keuangan kuantitatif. Namun, perkembangan bisnis yang semakin kompleks membuat persyaratan pengungkapan informasi kualitatif yang mendukung informasi keuangan kuantitatif menjadi lebih penting dan mendetail. Pengungkapan informasi kualitatif ini merupakan bagian takterpisahkan dari laporan keuangan, yang bertujuan untuk menyediakan informasi keuangan yang jujur dan wajar, agar pengambilan keputusan dapat dilakukan atas dasar informasi yang cukup, andal, dan menyeluruh.

Sumber : http://sco.lt/4y5O0e