AKHLAQ TASAWWUF

AKHLAQ TASAWWUF

AKHLAQ TASAWWUF
AKHLAQ TASAWWUF

Secara harfiah, maqamat merupakan jamak dari kata maqam yang berarti tempat berpijak atau pangkat mulia.[1] Dalam Bahasa Inggris maqamat dikenal dengan istilah Stages yang berarti tangga.[2] Sedangkan dalam ilmu tasawuf maqamat adalah suatu konsep dalam Ilmu Tasawuf yang digunakan oleh para peserta Tasawuf (al-Mutasawwif) untuk mengukur keberadaan tingkat spiritualnya dari satu maqam kepada maqam yang lebih tinggi tingkatannya. Istilah maqamat dan tidak pernah ditemukan dalam kegiatan Tasawuf pada masa Sufi Salaf, tetapi inti ajarannya sudah diamalkan oleh Sufi Sahabat sejak masa Rasulullah SAW. Istilah tersebut, baru dikenal namanya pada masa perkembangan Tasawuf abad II H, yang sebagian ahli Tasawuf mengatakan, bahwa istilah itu mulai dipopulerkan oleh Dhu al-Nun al-Misri sebagai Sufi Sunni.[3]
Syekh Abu Nashr as-Saraj al-Tusi mengatakan, ketika kita ditanya oleh orang lain tentang pengertian maqamat, maka jawabanya adalah suatu kedudukan hamba di hadapan Allah Azza Wa Jalla, dari hasil ibadah, mujahadah (perjuangan spiritual), riyadah (latihan spiritual), dan konsentrasi diri untuk mencurahkan segala-galanya hanya untuk Allah SWT. Yang semuanya senantiasa ia lakukan.[4] Hal ini, berdasarkan dengan tuntunan al-Qur’an surat Ibrahim ayat 14 dan surat al-Saffat ayat 164.
QS. Ibrahim: 14
ذَالِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِى وَخَافَ وَعِيْدٍ.
“dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu sesudah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku”.

Q.S. As-Saffat: 164
وَمَا مِنَّا اِلاَ لَهُ مَقَامُ مَعْلُوْمُ.
“Tiada seorangpun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu”.

Menurut al-Ghazali yang diuraikan dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, maqamat terdiri dari delapan tingkat, yaitu taubat, sabar, zuhud, tawakkal, mahabbah, ridha dan ma’rifat.[5] Ada beberapa peneliti tasawuf yang memperoleh data dari sufi yang diteliti, bahwa tingkatan maqam itu ada seratus, dan ada pula yang mengatakan empat puluh, yang disebut maqamat al-Arba’in. Kedua pendapat ini ternyata tidak membedakan antara maqam dan hal, karena dipandang keduanya merupakan kondisi spiritual hamba yang berfungsi untuk mengantarkan peserta Tasawuf untuk mencapai tujuannya, misalnya pendapat Sahl bin ‘Abdillah al-Tustari, Abu Talib al-Makki, al-Junayd bin Muhammad, Abu ‘Uthmah al-Naysaburi, Yahya bin Mu’az, Abu Sulayman al-Darani dan ‘Aun bin ‘Abdillah.[6] Tanjakan maqam yang begitu banyak, dengan menelan kesunguhan tenaga dan waktu yang banyak pula, dapat diperoleh dengan latihan dhikir dan tafakkur (merenung), yang jumlahnya banyak menurut penetapan masing-masing ahli tarekat.
Dari beberapa penulis Tasawuf yang menetapkan sekian banyak jumlah tingkatan maqamat, maka kajian ini hanya menampilkan pendapat Syekh Abu Nashr as-Saraj al-Tusi yang mengatakan jumlah tingkatan maqamat hanya tujuh (al-maqamatu al-Sab’ah), sejalan dengan pendapat A’la al-Dawlah al-Sammani yang mengatakan, bahwa bilangan tujuh tingkatan maqam tersebut, sesuai dengan jumlah tujuh orang Nabi yang memiliki kondisi spiritual yang sama dengan tingkatan maqam yang akan dikemukakan dalam kajian ini, dengan tidak mengemukakan nama-nama Nabi yang dimaksud.
Tujuh tingkatan maqam yang dimaksud oleh Syekh Abu Nashr as-Saraj al-Tusi, adalah taubat (al-Tawbah), meninggalkan hal-hal yang syubhat (al-Wara’), meninggalkan pengaruh kesenangan dunia (al-Zuhud), hidup dalam keadaan fakir (al-Fakru), sabar ( al-Sabru), rela menerima ketentuan Allah (al-Rida), dan menyerahkan segala urusan kepada Allah (al-Tawakkul).[7] Tujuh macam tingkatan spiritual tersebut akan diterangkan berikut ini:
1. Taubat
Taubat berasal dari bahasa Arab تَابَ يَتُوْبُ تَوْبَةً yang berarti kembali dan penyesalan.[8] Sedangkan pengertian taubat bagi kalangan sufi adalah memohon ampun atas segala dosa yang disertai dengan penyesalan dan berjanji dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut dan dibarengi dengan melakukan kebajikan yang dianjurkan oleh Allah Swt.[9]
Sedangkan Taubat menurut Dzun Nun al-Misri dibedakan menjadi tiga tingkatan:
a. Orang yang bertaubat dari dosa dan keburukan,
b. Orang yang bertaubat dari kelalaian mengingat Allah SWT, dan
c. Orang yang brtaubat karena memandang kebaikan dan ketaatanya.[10]
Dan dari ketiga tingkatan taubat tersebut,yng dimaksud sebagai maqam dalam tasawuf adalah upaya taubat , karena merasakan kenikmatan batin.
Berkaitan dengan maqam taubat, dalam al-Qur’an terdapat ayat yang menjelaskan tenteng masalah ini di antaranya adalah surat An-nur ayat 31.

Sumber : https://tribunbatam.co.id/goetia-apk/